oleh

47 Hari di Rusunawa, Keluarga Pasien Covid-19 Mengeluh

HALSEL – Wabah Pandemi coronavirus (Covid-19) menyisahkan banyak kesedihan bagi keluarga dan banyak pula kebahagian bagi sanak keluarga yang sembuh dari Covid-19.

Ada kesedihan bagi salah seorang inisial BN (28) Ayah dari seorang anak laki-laki yang baru berusia 8 bulan warga Amasing Kota, Kecamatan Bacan.

Informasi yang dihimpun, BN menjalani Karantina di Rusunawa Desa Tuwokona, Kecamatan Bacan Selatan kurang lebih 47 hari terhitung mulai Selasa (30/6/2020) lalu, karena memiliki riwayat perjalanan dari Kota Tidore Kepulauan. BN menumpangi Ferry dan tiba sekira pukul 12.00 WIT.

BN dan penumpang lainnya diperiksa petugas Covid-19 yang bertugas di Pelabuhan Sayoang-Babang, Kecamatan Bacan Timur hingga pukul 03.00 WIT, selanjutnya seluruh penumpang di bawa ke Rusunawa untuk menjalani pemeriksaan Rapid Test, karena menahan rasa lapar dengan kondisi anaknya yang baru berusia 8 bulan dan tengah sakit. Hasil pemeriksaan Rapid Test BN pun dinyatakan reaktif dan harus menjalani Karantina.

Dari keterangan pihak keluarga, BN mengalami penyakit bawaan, Jantungan. Hingga saat ini BN belum pernah bertemu sang anak, Istri bahkan keluarga selama 47 hari karena menjalani karantina di Rusunawa.

“Dia (BN) datang dengan kapal Ferry jam 12 malam di Sayoang-Babang, mereka (petugas Covid-19) periksa penumpang sampai jam 3 subuh. BN masuk di rusunawa dalam keadaan lapar akhirnya drop ditambah dengan pikiran anak yang sakit akhirnya dia di rapid test hasilnya reaktif. Hasilnya di kirim ke Manado satu bulan dan hasil kaluar dia dinyatakan positif, BN itu ada panyakit bawaan jantung dan sekarang ini kami tunggu hasil kedua belum keluar sudah dua minggu lebih,” ungkap keluarga BN kepada lintasmalut.co.id, Kamis (16/7/2020).

Pihak keluarga juga berharap kepada Tim Gustu Covid-19 agar BN dirawat di RSU Labuha sehingga mendapatkan perawatan dari Dokter secara rutin seperti pasien Positif Covid-19 sebelumnya yang sudah di nyatakan sembuh setelah di rawat di RSU Labuha beberapa waktu lalu.

“Kalau positif itu rawat di rumah sakit biar Dokter kasih perawatan rutin sama dengan Ibu Sihati, supaya sembuh bukan kurung di rusunawa. Dia itu jantungan baru di rusunawa dia sendiri di kamar yang tidak ada kipas angin, sementara dia sering keringat dan takut kalau sendiri apalagi sering mati lampu,” ujarnya.

Terpisah, Sekertaris Gustu Covid-19, Halsel Daud Djubedi menjelaskan, saat ini Halmahera Selatan memiliki protokol terbaru yakni revisi kelima terkait dengan protokol kesehatan.

“Jadi selesai masa inkubasi selama 14 hari akan dikembalikan ke rumah untuk menjalani karantina mandiri, akan tetapi saat ini masih dibicarakan di tingkat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Halmahera Selatan terkait kebijakan yang nanti diterapkan untuk pencegahan dan memutus mata rantai Covid-19 di Halsel,” jelasnya. (Bar)

Komentar