oleh

Bisnis Forum di Trade Expo Indonesia ke 33, Bupati Morotai Tampil Sebagai Pemateri

MOROTAI , LM – Bupati Kabupaten Pulau Morotai, Benny Laos, pada hari Jumat, 26 Oktober 2018, tampil sebagai salah satu pembicara dalam Bisnis Forum di Trade Expo Indonesia (TEI) ke 33, tahun 2018, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri RI. Bisnis Forum mengambil Tema: “Promoting Indonesian Fisheries to Global Market.” TEI ke 33 tahun 2018, diresmikan pembukaannya oleh Presiden Joko Widodo, pada hari Rabu, 24 Oktober 2018, di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Banten. TEI ke 33 tahun 2018, berlangsung dari tanggal 24-28 Oktober 2018.

Bupati Morotai tampil membawakan materi presentasi berjudul: “Morotai Marine and Fisheries Potential, Heading Towards a Green and Smart Future”.

Materi presentasi Bupati Pulau Morotai terdiri atas 6 Bab, diantaranya, I. Introduction, II. Supporting Policies & Regulations, III. Bussines Potential, IV. Future Development, V. Our Homework, VI. Conclusion

Secara padat dan strategis, Bupati Benny Laos menyampaikan bahwa Kabupaten Pulau Morotai memiliki keunggulan komparatif yaitu posisi letak yang strategis di gerbang Asia dan pasifik, sebagai poros sentral menuju ke negara dan kota-kota utama di Asia: Philipines, Singapore, Japan, Korea, dan China, termasuk Hongkong dan Macau, serta negara-negara di Pasifik, dari Palau sampai USA. Rata-rata penerbangan ke Morotai dari kota-kota utama di Asia hanya sekitar 2-6 jam, yang dapat menjadi lebih cepat lagi manakala dilakukan penerbangan langsung dari dan ke Morotai.

Keunggulan komparatif Morotai yang lain yaitu sumber daya alam, terutama potensi perikanan dan hasil laut, pertanian dan perkebunan, serta pariwisata karena keindahan alam, baik di darat, pesisir maupun di dalam laut.

Untuk mengakselerasikan dan mentransformasikan berbagai keunggulan komparatif itu, kata Bupati Benny Laos, maka dikembangkan berbagai keunggulan kompetitif Morotai, seperti: Visi pembangunan di era kepemimpinan Bupati Benny Laos & Wakil Bupati Asrun Padoma yaitu konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development, untuk mencapai kualitas pembangunan yang lestari, ramah lingkungan dan berbasis teknologi, atau green and smart development, yang dicapai melalui 9 (sembilan) aras pembangunan, dengan berorientasi kepada peningkatan kualitas hidup warga Morotai, melestarikan lingkungan hidup, melaksanakan reformasi birokrasi dan meningkatkan kapasitas dan kinerja penyelenggara pemerintahan daerah, melaksanakan akselerasi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, mewujudkan persatuan dan kesatuan, serta menggiatkan peluang bisnis dan investasi.

Lanjutnya, keunggulan kompetitif Morotai yang lain yaitu berupa dukungan kebijakan dari tingkat nasional, seperti: kebijakan tata kelola perbatasan, tata kelola perikanan dan kelautan terpadu (SKPT), destinasi prioritas periwisata atau lebih dikenal sebagai “10 Bali Baru”, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jababeka Morotai.

Berbagai kebijakan strategis dari tingkat nasional kemudian dikombinasi dengan berbagai kebijakan tingkat daerah, mulai dari perencanaan pembangunan jangka panjang dan menengah (RPJP dan RPJM), kebijakan tata kelola pemerintahan dan pelayanan (Pelayanan Satu Pintu; disiplin alokasi anggaran (APBD); peningkatan disiplin, kapasitas, dan kinerja ASN; pelayanan kepada masyarakat termasuk kepada para nelayan dan keluarganya, meliputi asuransi kesehatan, pendidikan, air bersih, dan penerangan; penyederhanaan proses perijinan, kemudahan berbisnis dan berinvestasi, baik di luar maupun di dalam lokasi KEK, menurut Bupati Benny Laos, telah menjadikan Kabupaten Pulau Morotai semakin kompetitif dan mencapai peningkatan pemeringkatan pada sekian parameter capaian kualitas pembangunan dan pelayanan publik.

Salah satu bukti dari capaian berkinerja dan pembentukan iklim yang kondusif kepada pelaku bisnis, ditandai dengan pelaksanaan ekspor perdana ikan tuna berkualitas prima dari Morotai ke negara Viatnam sebanyak 23,9 ton, pada akhir September 2018 lalu, sebagai hasil kerjasama antara SKPT Daeo Majiko – yang baru beroperasi beberapa bulan – dengan mitra bisnis PT. Harta Samudra.

Potensi perikanan di wilayah Kabupaten Morotai, urai Bupati Benny Laos, mencapai sekitar 195 juta ton/tahun, dengan potensi maksimal pemanfaatan (maximum sustainable yield (MSY)) sebesar 156 juta ton/tahun, ternyata yang baru bisa dimanfaatkan hanya sebesar 1.600 ton/tahun, atau hanya sekitar 1% dari MSY, yang berarti masih tersedia potensi perikanan dan hasil laut yang sangat besar di wilayah Morotai, suatu peluang usaha yang signifikan kepada para pebisnis DN dan LN.

Dikatakannya, secara umum terdapat tiga target pengembangan industri perikanan dan hasil laut di Kabupaten Pulau Morotai yaitu pertama, optimalisasi peningkatan hasil tangkapan ikan dan hasil laut sesuai kebutuhan pasar untuk menghasilkan pendapatan yang memadai kepada para nelayan dan keluarganya; kedua, menghasilkan kualitas hasil tangkapan perikanan dan hasil laut yang tinggi untuk kebutuhan domestik dan ekspor; serta ketiga, menggiatkan investasi pada industri pengalengan hasil perikanan.

Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, kata Bupati Benny Laos, Pemkab Pulau Morotai telah menyiapkan berbagai perangkat kebijakan, perencanaan pembangunan, dan kebutuhan investasi serta kerjasama pembangunan, baik pada aspek tata aturan, kapasitas dan pelayanan ASN, sarana dan prasarana perikanan (kapal berbagai tonase, cold storage, dan pabrik es), termasuk sarana telekomunikasi, energi, dan bahan bakar, serta pengembangan infrastruktur seperti jalan lingkar pulau Morotai, pelabuhan, lapangan udara, air bersih, listrik, hotel, dan penginapan.

“Butuh pendekatan yang terintegrasi, fokus, terukur, progresif, berdisiplin, terutama dalam hal pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan bermutu, tata kelola pemerintahan daerah, kekuatan visi dan perencanaan, menciptakan iklim bisnis yang aman, ramah dan kondusif, serta penyediaan sarana dan prasarana, termasuk infrastruktur primer adalah suatu keharusan, jika tidak, maka susah untuk mengharapkan pebisnis dan investor mau datang menanamkan modalnya, dan akhirnya daerah sulit untuk dapat sukses membangun. Hal-hal negatif dari masa lalu, sudah harus ditinggalkan,” kata Bupati Benny Laos.

Mengakhiri paparannya, Bupati Pulau Morotai menyampaikan kepada para pebisnis yang hadir di bisnis forum TEI, “sekali lagi, ingin saya tekankan bahwa kekuatan kita di Morotai terletak pada aspek letak lokasinya yang strategis, kaya dengan sumber daya alam, terutama perikanan, kelautan, pertanian, perkebunan, dan pariwisata, serta jasa. Morotai mendapat dukungan kebijakan strategis dari tingkat nasional, salah satunya adalah KEK (Kawasan Ekonomi Khusus Jababeka Morotai), dan memiliki semangat berkinerja dan berprestasi yang tinggi dari pemerintah daerah serta rakyat Morotai.”

“Yang kami butuhkan saat ini adalah jaringan kerjasama untuk menopang konsep pembangunan Morotai yang berkelanjutan, serta pengembangan bisnis dan investasi yang memiliki nilai tambah atau added value dan yang berorientasi ekspor.”

Intinya, kata Bupati Benny Laos, “jika anda berkegiatan bisnis di Morotai maka anda akan memperoleh tiga hal sekaligus di suatu lokasi yaitu sumber daya, fasilitas dan pelayanan, serta keindahan alam. Itulah kami, Morotai.”

Presentasi Bupati Morotai mendapat sambutan sangat positif dan tepuk tangan dari para hadirin karena dinilai visioner, penuh gebrakan atau progresif, terencana dengan baik, terukur dan realistis, sangat sensitif bisnis, memiliki dimensi kerjasama internasional, serta memiliki kemauan keras untuk mencapai yang sudah dipancangkan.

Sumber : I-Malut

Komentar