oleh

Cerita Ipda Raden Tak Mendapat Perhatian Dari Pimpinan Polri

TERNATE, Lintasmalut.net – Cerita Ipda Raden Bachtiar, mengiris hati ketika itu hadir dalam acara Ulang Tahun Polairud Ke-68 di Royal Resto,
Ibda Raden Bachtiar merupakan, salah satu anggota kepolisian yang betugas di Dit Polairud Polda Maluku Utara sudah kurang lebih 4 tahun menderita penyakit diabetes atau gula basah.

Sejak itu pula pria berumur 50 tahun ini tidak lagi maksimal menjalankan tugas kesehariannya sebagai anggota Polri, ketuka divonis oleh dokter menderita gula basah yang sangat kronis.

“Saya langsung cek up ke Ruma Sakit Mangga Dua di Jakarta, namun dokter mengatakan saya sudah mengalami penyakit diabetes dengan tinggi gula darah 470 dan disitu sudah harus diwaspadai serta makan pun harus jaga,” ungkapnya.

Meski demikian, ia masih terlihat gagah Tak mematahkan semangat hingga hadir dalam acara Dirgahayu Polairud ke-68 di Royal Resto Ternate Selasa (4/12/2018) walaupun dengan kursi roda.

Di tahun 2017, kaki kanannya hingga lutut terpaksa diamputasi oleh dokter sebelum mengggerogoti di bagian atas.

Menurut Raden, Ia merasakan itu sejak tahun 2017 diawali dengan gejala penglihatannya mulai kabur dan sering merasa pusing.

“Kemudian diperiksa ke RS Bhayangkara namun diberikan rujukan ke RS Umum. Saat itu juga dokter langsung putuskan untuk diamputasi, yang pertama jatuh pada jari-jari kaki, namun keesokan hari dokter pun meminta agar di amputasi di bagian lutut,” kata Raden.

Sejak kakinya diamputasi, Raden merasa belum mendapatkan perhatian dari unsur pimpinan dimana ia bekerja.

Padahal katanya, ia sangat berharap ada perhatian sehingga bisa membeli kaki palsu dalam rangka kembali melanjutkan tugas-tugasnya sebagai perwira pertama di kepolisian.

“Pada saat selesai diamputasi, yang datang berkunjung melihat kondisi saya hanya pimpinan Dir Polairud Polda Malut, Kombes Pol Arif Budi Winova, selain itu tidak ada,” ujarnya.

Untuk satu kaki palsu saja katanya bisa mencapai Rp 7 juta hingga ada yang mencapai ratusan juta rupiah.

“Untuk gaji memang masi terus berjalan namun untuk membeli satu kaki palsu yang biasa, dengan jumlah berkisar Rp 7 juta lebih, namun yang besi berkisar Rp 100 juta belum ongkir,” katanya.

Sementara itu, Dir Polairud Polda Maluku Utara, Kombes Pol, Arif Budi Winova mengatakan bahwa Ipda Raden Bachtiar adalah anggota yang bertugas di Ditpolairud Polda Malut yang sampai sekarang mengalami sakit dan hingga saat ini menjalani pengobatan.

“Tapi alhamdulillah hari ini beliau bisa hadir di acara Dirgahayu Polirud ke 68,” ucap Arif.

Namun menurutnya, tugas tidak hanya perlu fisik yang lengkap karena sekarang beliau masih mempunyai indra yang lain yang masih bisa digunakan untuk bekerja, sebagai contoh mulut.

Arif Budi mengaku secepatnya akan koordinasikan dengan biro sumber daya manusia (SDM) Polda Malut, untuk bisa memperdayakan ke dalam sebagai personil operator radio yang tidak membutuhkan aktifitas fisik, namun hanya dengan menggunakan aktifitas mulut karena mata masih bisa lihat telinga pun masih bisa dengar.
“Jadi menunggu keputusan dari biro SDM,” jelasnya.(mtg)

[contact-form][contact-field label=”Nama” type=”name” required=”true” /][contact-field label=”Surel” type=”email” required=”true” /][contact-field label=”Situs web” type=”url” /][contact-field label=”Pesan” type=”textarea” /][/contact-form]

Komentar