oleh

Dampak COVID-19, Pedagang, Bentor dan Sopir Angkot di Morotai Menjerit

DARUBA – Mewabahnya coronavirus (COVID-19) di Indonesia dan berdampak disejumlah Daerah, pemerintah akhirnya menghimbau masyarakat untuk menerapkan social distancing atau pembatasan sosial dengan bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.

Kabupaten Pulau Morotai sendiri untuk memutus penyebaran virus tersebut maka dikeluarkanlah satu kebijakan yaitu Locksteril atau pembersihan dari kuman maupun virus dengan melakukan penyemprotan desinfektan ke seluruh Desa. Hal tersebut dilakukan untuk menekan angka penyebaran virus yang semakin tidak terkendali.

Semenjak diterapkannya kebijakan Locksteril yang dilakukan oleh Pemda Morotai pada 24 Maret 2020 lalu, berbagai kalangan masyarakat pun terkena dampaknya termasuk para pedagang, bentor dan sopir angkot.

Ona, salah seorang penjual ikan dan sayur-mayur di Morotai mengatakan pendapatannya anjlok karena sepi pembeli. “Pendapatan hari ini sangat menurun drastis, sayur dengan rampa-rampa belum ada orang yang beli. Mungkin karena virus, jadi merek takut balanja,” katanya ketika ditemui di pasar baru Gotalamo, Rabu (8/4/2020).

Ona mengaku, sayur jualannya sering dibuang karena mulai layu dan tidak bisa dijual. “Sayur ini kalau tidak laku terpaksa harus saya buang karena so tidak bisa jual ulang, dengab sekarang itu untuk modal saja kadang tidak bisa balik, ikan juga bagitu, biasanya satu hari dapat 300 sampai 500 ribu, tapi sekarang 200 ribu kita paksa jual,” ungkapnya.

Hal senada juga dialami para tukang ojek dan sopir angkot. Menurut mereka, aktivitas masyarakat berimbas pada anjloknya penghasilan harian. Mahmur, salah satu tukang bentor mengeluhkan dampak dari merebaknya virus corona penghasilannya akhir-akhir ini menurun.

“Saya dari pagi sampaibsore ini baru dapat Rp 45 ribu bukan cuma saya. Temang-teman bentor yang lainpun sama. Samua mengeluh karena biasanya tiap hari kasuu masuk uang stor Rp 50 ribu, sekarang sudah tidak bisa karena penumpang sunyi,” tukasnya.

Sorang sopir angkot yang namanya tak mau disebutkan juga mengaku merasakan hal yang sama terhadap kondisi yang di hadapi saat ini. Ia mengatakan, bukan sekedar sepinya penumpang, namun dirinya dituntut untuk ekstra waspada terhadap penyebaran COVID-19 saat mencari penumpang.

“Dibilang takut sama corona ya pasti takut, tapi ini sudah menjadi tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kalau kita tidak kerja siapa yang mau setor uang kredit dan kasih makaan. Bantuan sembako berupa beras 5Kg dan sabun Daia 2 batang yang di berikan pemerintah tidak cukup untuk kebutuhan kami di dalam rumah yang berjumlah lebih dari 1 KK,” katanya.

Ia berharap, wabah COVID-19 ini cepat berlalu, sehingga kondisi bisa kembali normal dan mata pencaharian mereka tak lagi terhambat.

“Semoga ada bantuan atau subsidi dari pemerintah bagi masyrakat kecil seperti saya, sehingga beban kita di tengah mewabahnya COVID-19 ini bisa sedikit ringan, apalagi sebentar lagi kita akan menyambut bulan suci ramadhan,” harapnya. (Fik)

Komentar