oleh

Diskusi DOB Sofifi, Kompas dan Pemkot Tikep Sepakat Audiens Dengan Kesultanan

-SOFIFI-28 views
Suasana Diskusi DOB Yang Digelar Kompas (Foto:Oedi/lintasmalut.co.id)

SOFIFI – Wacana pemekaran kota Sofifi bukanlah isapan jempol semata, walaupun 5 tahun ke belakang sempat vakum dari perbincangan publik khususnya masyarakat daratan Oba. Akan tetapi, Isu ini kembali mencuat dan mulai memasuki babak baru saat Koalisi Pemuda Peduli Sofifi (Kompas) dan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan (Pemkot Tikep) menyepakati akan audiensi dengan pihak Kesultanan Tidore guna membahas DOB Sofifi.

Bermula dari acara buka puasa bersama (Bukber) dan diskusi tentang DOB Sofifi yang ditenggarai oleh Kompas di penginapan Yusmar, Sabtu (18/5/2019) kemarin.

Dalam diskusi itu nampak hadir Anggota DPRD Kota Tikep periode 2014-2019, Anggota DPRD Terpilih periode 2019-2024, ketua Aliansi Masyarakat Oba Bersatu (AMOB) dan tokoh masyarakat serta tokoh adat perwakilan masing-masing Desa se-daratan Oba.

Diskusi awalnya berjalan hangat, anggota DPRD Abdullah diberi kesempatan untuk berbicara. Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, pria yang kerap disapa Alud itu kemudian menceritakan kronologis rekomendasi Pemkot Tikep untuk pemekaran kota Sofifi hingga saat ini tak kunjung dikeluarkan.

Alud menyebut, pada saat penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang di sahkan pada tahun 2016, anggaran untuk pemekaran kota Sofifi digelontorkan sebesar Rp. 1 Miliyar. Dana itu dimasukkan dalam pos anggaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), untuk menyusun segala rancangan persiapan administrasi Sofifi.

“Hingga saat ini administrasi berupa batas wilayah daerah, jumlah penduduk, dan persyaratan pendukung lainnya tidak ada progres dari pemkot tikep, kita tunggu sampai saat ini tidak pernah ada,”sesalnya.

Hal ini disampaikan anggota DPRD Dapil II Oba untuk menepis isu bahwa 10 legislator yang dikirim masyarakat Oba ke Tidore tidak pernah memperjuangkan pemekaran kota Sofifi.“Ini harus kita jelaskan di forum ini agar tidak ada persepsi-persepsi miring kepada anggota DPR yang masih aktif ini,”ujarnya.

Kesempatan demi kesempatan diberikan moderator Andre Teny yang juga Sekretaris Kompas Sofifi kepada sejumlah tokoh yang hadir pada  diskusi tersebut.

Berselang sekitar 1 jam, tiba-tiba forum diskusi tampak tegang, rupanya hadir dalam forum yang berbahagia itu Wakil Walikota Tikep Muhammad Sinen didampingi kepala Bappeda dan sejumlah warga Sofifi.

Wawali Tikep kemudian bergabung dengan Forum dan diskusi pun dilanjutkan. Wawali mengatakan, DOB ini tidak terlepas dari keputusan politik. Untuk itu, perlu dibicarakan dengan semua stakeholder dalam hal ini masyarakat, Pemda, dan pihak kesultanan Tidore.“Ini tuntutan politik, ini usulan politik, pemekaran ini bicara politik,”tegasnya menjawab pernyataan salah satu peserta diskusi.

Tidak panjang lebar, Ketua DPD PDI Perjuangan ini menyarankan Kompas yang dipimpin Risman Tidore ini membuat surat yang ditujukan ke Walikota Tidore untuk meminta audiensi dengan Kesultanan Tidore.

“Tinggal Kompas ini bikin surat ke pemerintah daerah, minta audiens pemerintah daerah dengan pihak kesultanan, nanti dengan surat permintaan itu pemerintah daerah menyampaikan itu (DOB) kepada pihak keselarasan karena itu diminta oleh tokoh-tokoh yang ada di Oba,” pungkasnya.

Sontak, saran dari Wawali tersebut mendapat tanggapan positif dari Ketua Kompas, ia berpendapat usulan tersebut merupakan benang merah dari diskusi malam itu.“Jadi kita sudah menemukan benang merah dari diskusi pada malam ini secepatnya kita akan masukan surat tersebut,”tukasnya.

Dinamika diakusi semakin memanas, suara interupsi terdengar dari berbagai sudut, tidak mau terjadi bias dalam pertemuan itu, moderator langsung membuat kesimpulan dan menutup diskusi tersebut. (Alan)

Komentar