oleh

Dituding Lakukan Penyerobotan Lahan, Adidaya Tangguh Bantah Pernyataan MSTJ

BOBONG, LM – PT. Adidaya Tangguh ( ADT ) yang beroperasi di Desa Tolong, Kecamatan Lede, Kabupaten Pulau Taliabu, Provinsi Maluku Utara mengolah Biji Besi, dan kabarnya pun terdapat emas serta beberapa jenis kekayaan alam lainnya mendapat sorotan dari koordinator Mahasiswa Sula Taliabu Jabodetabek ( MSTJ ), Risman Panigfaat beberapa waktu lalu melalui salah satu media online.

Menurut Risman, PT Adidaya Tangguh pada tahun 2017 diketahui terus membangun Infrastruktur penunjang kegiatan Operasi Pertambangan berupa Jalan, Fron, Camp, Jetti dan juga rell untuk belt conveyor yang di bangun dan Pembangunan Fasilitas, tentunya banyak lahan – lahan pertanian dan perkebunan warga yang rusak akibat dari pembangunan infrastruktur tersebut, namun pihak perusahaan mengganggap biasa-biasa saja. Selain itu juga pihak perusahan sudah memasang papan larangan kepada masyarakat atau warga untuk tidak lagi memasuki ke areal perkebunan mereka melalui izin dari pihak perusahaan.

“Kami menduga PT Adidaya Tangguh tidak memiliki izin pinjam pakai kawasan hutan, areal pertambangan dan PT Adidaya Tangguh berada di areal hutan lindung. Sangat di sayangkan selama keberadaan PT Adidayah Tangguh di pulau taliabu telah meresahkan masyarakat Pulau Taliabu,” tuturnya.

Lanjut dia, secara umum pihaknya  menduga areal perusahan PT Adidaya Tangguh menggunakan lahan milik masyarakat, sebab penggusuran lahan masyarakat yang dilakukan perusahan tidak diketahui oleh pemilik lahan. Selain areal pertambangan PT Adidayah Tangguh masuk dalam wilayah pemukiman penduduk ; bagian barat Desa Todoli dan Desa Tolong yang sampai hari ini menjadi permasalahan dengan pihak PT Adidaya Tangguh.

Sementara untuk kebutuhan infrastruktur pembangunan jalan Conveyor PT Adidaya Tangguh melakukan Penggusuran lahan perkebunan masyarakat pada Malam hari tanpa sepengetahuan pemiliknya.

“Kami sangat menyayangkan sebab langkah yang di lakukan oleh Perusahaan yang sangat merugikan masyarakat,” beber Risman.

Lebih parah lagi, (red-risman) menduga PT. ADT belum melengkapi izin-izin berdasarkan golongan galian tambang biji besi (emas dan mineral lainnya).

“Maka, kami mendesak Kementrian ESDM untuk mencabut Izin IUP PT Adidayah Tangguh yang saat ini beroperasi di Pulau Taliabu, dan juga kami meminta kepada pihak ESDM untuk memanggil dan mengevaluasi petinggi PT Adidaya Tanggu terkait dengan beberapa persoalan yang menjadi kewajiban perusahan namun lalai di laksanakan oleh pihak Perusahan,” tutup Risman Paningfat
Kordinator Mahasiswa (Kormas) Sula-Taliabu Jabodetabek.

Menanggapi pernyataan itu, PT. Adidaya Tangguh melalui Kepala Bagian Hubungan Masyarakat ( Humas ) dan Eksternal, Sutrisno ( Tris ) mengatakan, pihaknya dalam melakukan aktivitas pertambangan memiliki ijin yang lengkap dan tidak pernah melakukan penyerobotan lahan milik warga.

“Kami PT. ADT bergerak dalam bidang usaha pertambangan bijih besi, kami memiliki perijinan yang lengkap dalam beraktivitas dan kami tidak pernah melakukan penyerobotan lahan milik masyarakat, bila ada saudara kita masyarakat Taliabu yang merasa lahannya belum diselesaikan dan telah digunakan oleh perusahaan silahkan datang mengadu di kantor site PT ADT di Desa Tolong dengan membawa bukti-bukti kepemilikkannya, Insya Allah akan diperhatikan untuk diselesaikan,” ujarnya via WhatsApp kepada Lintas Malut, Senin ( 30/8/2021) kemarin.

Menurut Tris, tindakan penyerobotan lahan atau areal oleh pihak perusahaan yang kemudian diklaim lahan tersebut milik warga, maka silahkan dilaporkan kepada pihak yang berwajib berdasarkan bukti kepemilikan.

“Penyerobotan itu tindakan pidana dan kalau merasa benar di serobot lahannya oleh perusahaan silahkan juga diadukan ke pemerintah dan juga ke penegak hukum atau polisi,” tutupnya. ( int/red )

Komentar