oleh

Duka Keluarga Kiki Kumala

-OPINI-75 views
Poster Almarhumah Kiki Kumala

Oleh :

Gunawan Suswantoro

(Sekertaris Jendral Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia)

Perjalananku diakhir pekan ini dari Jakarta menuju Halmahera memang terkesan agak sedikit buru-buru karena direncanakan dalam waktu singkat, meskipun niatnya sudah lama. Perjalanan menyempil diantara kesibukan dan pekerjaan yang menumpuk. Tapi aku menikmati perjalanan ini dengan gembira.

Dari cengkareng aku dan stafku (rombongan kecilku) berangkat pukul 01.05 menuju Bandara Sultan Babulah Ternate. Perjalanan panjang menuju wilayah timur Indonesia nyaris ditempuh kurang lebih 3.5 jam.

Tujuan perjalanan ini menuju Halmahera Utara karena aku mendengar dari stafku ada destinasi wisata indah disana. Dari Bandara aku langsung ke hotel, mampir sejenak untuk mandi dan sekedar ganti baju dan sarapan. Perjalanan kami lanjutkan ke pelabuhan, naik speedboat kurang lebih sejam hingga sampai di pelabuhan Sidangoli, Halmahera Barat. Dari Sidangoli kami melanjutkan perjalanan naik mobil menuju Tobelo, rombongan kami mampir sebentar untuk makan siang di rumah makan Kusu kusu di Desa Dum dum. Menikmati sajian ikan segar, kelapa muda dan merokok, sejenak lelah hilang meskipun mata mulai ngantuk karena semalam kurang tidur. Karena lelah, dan kenyang, aku lantas tertidur.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur ketika terbangun ternyata mobil kami berhenti dan aku melihat antrian panjang mobil-mobil lain didepan kami. Dari staf yang ikut dalam rombongan aku tahu, bahwa macet ini disebabkan keluarga Kiki Kumala gadis belasan tahun yang diperkosa dan dibunuh oleh seorang residivis membuat keluarga berang, apalagi pejabat dan pemangku kepentingan di daerah seolah-olah mendiamkan saja kejadian ini. Itu sebabnya keluarga Kiki Kumala menggelar demo hari ini dan menuntut agar pelaku dihukum mati karena perlakuan biadabnya terhadap korban.

Mendengar itu aku segera turun menerobos kerumunan masyarakat yang menyaksikan aksi gelar kain putih untuk meminta dukungan masyarakat melalui pembubuhan tanda tangan di lembaran kain putih yang mereka dibentang di badan jalan raya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengambil spidol dan ikut menanda tangani pernyataan dukungan tersebut. Mendengar kisah pilunya saja, aku sudah ikut sedih dan prihatin, apalagi menyaksikan wajah lugu Kiki Kumala yang fotonya dibingkai dan diletakkan di tengah jalan. Sungguh hanya laki-laki keji saja yang tega memaksakan kehendak kepada anak perempuan seperti Kiki.

Sekjen Bawaslu RI saat menandatangani petisi untuk memberi dukungan kepada keluarga korban di Desa Tahane, Kecamatan Malifut, Halmahera Utara

Aku memang tak punya anak perempuan, tapi aku punya ponakan perempuan, terbayang kepedihan hati sang ibu akan buah hatinya yang tersiksa, diperkosa lalu dibunuh pula. Rasa geram tiba-tiba menyeruak dalam hatiku, aku mengibaskan pikiran itu dari kepalaku, karena mungkin aku akan menjadi manusia pertama yang akan memberi pelajaran kepada laki-laki biadab itu seandainya aku ayahnya. Betapa laki-laki biadab itu sudah meretas masa depan dan kesempatan hidup seorang gadis kecil, lalu bagaimana berharap keluarga menerima perlakuan biadab itu tanpa melakukan apapun itu. Bisa menyeret pelaku ke pengadilan masih terlalu ringan, bahkan di beri sanksi yang paling beratpun, hati orang tuanya yang terluka belum tentu terobati.

Sekali lagi aku mengutuk pelakunya. Tidak sedikit yang merasa terganggu perjalanannya dengan aksi ini, tapi lebih banyak lagi yang mahfum dan ikut turun dan menorehkan tanda tangannya untuk mendukung. Apapun alasannya pemerkosaan adalah perbuatan biadab yang tak mungkin dikasihani. Dan hukuman berat harus dijatuhkan kepada pelaku apalagi sebelumnya dia juga sudah dihukum atas kasus yang sama. Kupandangi lagi wajah anak perempuan di bingkai itu, aku bersamamu nak, semoga Allah melapangkan jalanmu, mengampuni salah dan khilafmu serta menempatkanmu ditempat terbaik di sisinya. Amiiiin (*)

Komentar