oleh

Gusur Paksa Lahan Warga, PT Harita Grup Diminta Segera Tuntaskan Pembayaran

Lahan milik warga Desa kawasi Kecamatan Obi yang di Gusur PT.Haruta Grup (Foto Istimewa)

LABUHA – PT.Harita Grup diminta segera melakukan pembayaran lahan warga Desa Kawasi Kecamatan Obi Kabupaten Halmahera Selatan, (Halsel) Provinsi Maluku Utara, tindakan penyerobotan lahan warga oleh pihak PT.Trimega Bangun Persada (TBP) dan PT.Mega Surya Pertiwi (MSP) untuk pembangunan Bandara beberapa bulan lalu, karena hingga kini masih ada 14 lahan yang belum juga di lakukan pembayaran.

Berdasarkan keterangan dari Perwakilan Pemilik Lahan, Hamza kepada lintasmalut.co.id menyebutkan, pembebasan lahan tersebut saat itu dari pihak PT. TBP dan MSP, melakukan pertemuan dengan 34 orang pemilik lahan yang juga warga masyarakat Desa Kawasi Kecamatan Obi di Gedung lantai tiga Muara Hotel di Ternate, terkait pembahasan harga lahan termasuk sidang. Analisi Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) serta perencanaan Pembangun. Bandara dengan luas 300X600 meter persegi didalamnya termasuk lahan kebun masyarakat. Desa Kawasi yang dibahas dalam pertemuan itu.

Hamza juga menjelaskan, pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil karena soal lahan untuk pembangunan. Bandara belum ada persetujuan harga dari kami, setelah itu, karena belum ada persetujuan dari pihak PT. Harita Grup mengundang 34 pemilik lahan ke Manado Sulawesi Utara.

“Selama di Manado pihak PT.Harita Grup, melakukan acara yang sama seperti di Muara Hotel Ternate. Namun tetap tidak ada putusan harga lahan karena 26 pemilik lahan tersebut tetap menolak harga karen sangat murah dibandingkan dengan luas lahan yang kami miliki,” Jelas Hamza.

Hal ini juga diakui, Soleman Abdullah dan Man Noho, selaku pemilik lahan, bahwa, pada Oktober 2018 PT. TBP dan PT. MSP secara sadis menggusur lahan warga tersebut pada waktu malam hari sekitar pukul 15.00 WIT, atas tindakan itu kami warga Desa Kawasi selaku pemilik lahan tidak menerima baik tindakan pihak perusahan,” tegas keduanya dengan nada kesal, sembari mengatakan, “kalau tindakan Perusahan seperti ini kita habisi mereka saja, namun kami masih pikir bahwa Negara kita adalah negara hukum,”tutur mereka dengan nada kesal.

Maka atas tindakan penyerobotan lahan tersebut pihak warga meminta agar segera melunaskan pembayaran lahan yang sudah digusur teraebut, karena sejauh ini pihak PT.Harita Grup hanya membayar lahan yang ukuranya kecil sementara lahan yang berukuran besar belum juga dilakukan pembayaran.

“Sebanyak 34 lahan yang digusr PT.Harita Grup hanya Terbayar 20 lahan sisa Belum dibayar sampai sekaranh sebanyak 14 lahan Semntara lahan yg dibayar itu ukuran kecil dan lahan besar belum juga dibayar hingga sekarang,” Katanya.

Sementara itu Deputy Head Exrel dan CSR PT.Harita Grup Alexander Lieman mengatakan, persoalan lahan. Memang awalnya sudah bermasalah dan sehingga ada tahap negosiasi tinggal masalah harga saja.

“Kalau sudah dil-dilan berarti sudah selai yang penting kita sudah niat baik untuk menyelesaikn dan mereka pun terbuka, sehingga dalam waktu dekat kita akan secepatnya mebyelesaikan,,” Cetus Alexander, sembari mengatakan lagian kita kesini bukan merampas lahan orang.

Dintanya soal ada dugaan intimidasi terhadap warga yang memiliki lahan pada saat diundang ke Manado Sulawesi Utara agar pihak pemilik lahan menurunkan harga lahan yang digusr itu, Alexander membantah atas tuduhan terbut katanya itu tidak benar. (red)

Komentar