oleh

Jalan Berliku Burhan Ismail

-OPINI-208 views

Oleh

M. Kubais M. Zeen

Editor dan Penulis Freelancers.

Pernah jadi Penulis Literasi Koran TEMPO, edisi Makassar.

“Hidup yang tak pernah diperjuangkan, tak kan pernah dimenangkan.” (Sutan Sjahrir, Pendiri Bangsa).

Petuah si Bung Kecil—begitu Sutan Sjahrir akrab disapa, “terpahat” di baju kaos produk kreaif Insist Press-Resist Book, Yogyakarta, yang saya miliki beberapa tahun lalu. Petuah tokoh yang saya kagumi itu terngiang saat menggurat serpihan kisah hidup seorang lelaki yang pantang surut berpeluh memandirikan dirinya.

Nama lelaki itu Burhan Ismail (BI), yang lahir pada 5 Desember 1976 di Orimakurunga, Kayoa Selatan, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Di desa pesisir ini, ia menghabiskan sebagian hidpunya. BI tumbuh di tengah keluarga yang tak bergelimang harta. Sang ibu, Sukarni Mologutu, hanya ibu rumah tangga yang turut menyangga beban hidup dengan mengolah umbi—hasil utama kebun jadi sagu. Ayahnya, Ismail Lauhin, petani yang dipercaya masyarakat menjabat sekretaris desa selama beberapa periode di zaman Orde Baru. Jabatan itu tak seperti saat ini, pegawai negeri yang jadi rebutan. Sesekali, ayahnya yang turunan Gamkonora, Kecamatan Ibu Selatan, itu melaut untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga.

Sagu, terkenal sebagai makanan khas masyarakat Maluku Utara, dan di tanah kelahiran BI-lah pusatnya, yang hingga kini masih diproduksi secara tradisional. BI belia, setia membantu ibu membuat dan menjual sagu semampunya. Di dalam keluarga, ia terkenal menjaga kebersihan diri, fasih pula mengaji. Saat menginjak usia empat tahun, ia khatam Al-Quran—prestasi ini tertular pada putrinya, Sri Humairah B. Ismail.

Lelaki berbintang Sagitarius itu menyelesaikan pendidikan SD-SMP di tanah kelahirannya. Saat masih SD, BI, seperti orang tak mampu lainnya, mengenakan seragam tak padu: kemeja putih, celana pendek bebas sesuka hati, dan telanjang kaki lantaran tak mampu beli sepatu, juga celana seragam merah. Di SMP tidak seperti itu lagi. Sepulang sekolah, ia tetap menyempatkan diri membantu ibu yang paling menyayanginya.

Kira-kira tahun 1990, BI meninggalkan tanah kelahiran, menimba ilmu di Aliyah SP-IAIN Ternate. Di kota ini, numpang hidup di orang lain—pengampun—jadi pilihan terbaik. Sambil sekolah, dia cari uang sendiri, jadi buruh di Pelabuhan Bastiong, agar orangtuanya tersenyum.

Menjadi buruh masih dilakukannya hingga semester satu Fakultas Tarbiyah STAIN/IAIN Ternate. Sewaktu kuliah, BI tak lagi tinggal di pengampun. Bersama beberapa kawan patungan menyewa sebuah kamar kontrakan yang tak jauh dari kampus. Perut kosong sudah jadi hal biasa. Pun demikian dengan kenakalan, yang membuat pening sebagian temannya sampai menganggap BI tak akan menghuni daftar manusia sukses.

Orangtua dan keluarganya menyungging senyum saat BI pulang kampung dengan gelar sarjana. Beberapa waktu kemudian, guru ngaji ini beranikan diri mempersunting pujaan hatinya, Nursina Ilyas, gadis rumahan yang pontang-panting ia tambatkan hatinya. Sembari mengajarkan anak-anak mengaji, BI membangun sebuah Mushallah yang diberi nama Al-Irsyad. Ia pun bekerja menangkap sosoro (ubur-ubur) di laut Loid. Dua peristiwa penting yang selalu dikenangnya: tenggelam di laut pukul dua dini hari dan anak pertamanya lahir. Suatu malam, ia seperahu sampan dengan seorang sepupu, Bakbak nama panggilannya, ketiban rezeki. Banyak sosoro “menari-nari” di sekitar perahu. Girang bukan main. Sambil teriak, dengan penuh semangat memasukkan sosoro ke dalam perahu hingga dingin menusuk. BI tersentak, perahu sudah di dalam air, berenang bersama sosoro. Keduanya, susah payah mengeluarkan hasil tangkapan dan dibawa pulang secukupnya.

Di lain waktu, di tengah gulita berburu mahluk berkepala besar dengan jari-jari menjuntai itu, kabar gembira menghampiri: istrinya melahirkan. Tanpa pikir panjang, ia menamai anak sulungnya itu seperti nama “rumah” Tuhan yang sedang dibangun tersebut: Muhammad Irsyad B. Ismail. Karena masih butuh suntikan dana pembangunan Mushallah, BI menjual halua kenari di sejumlah daerah, dan memasukkan proposal bantuan dana di beberapa tempat. Impiannya terwujud. Mushallah rampung dibangun dan digunakan sampai kini.

Tahun 2001/2002 berbekal restu orangtua, dia memboyong anak istri ke Ternate, untuk mencari pekerjaan baru dengan harapan kehidupannya bisa berubah. Di kota ini BI menumpang hidup di gubuk kakak sulungnya. Sejumlah pekerjaan ditekuni demi menafkasi anak istri: tukang ojek, dagang sagu dan ikan kering—orang Maluku Utara, menyebutnya ikan garam. Dengan motor yang ia sewa, sedari subuh hingga malam, BI berburu penumpang. Ia hanya pulang rumah saat waktu makan tiba.

Lain lagi saat menjual sagu dan ikan kering. Pasar yang disasar, Manado. Dengan Kapal Pelni Umsini, BI menjajakkan dagangannya di kota yang terkenal dengan gadis-gadis rupawan mirip dara-dara Mandarin itu. Sayang, tak laku, harganya sama dengan di Ternate. Jalan satu-satunya, ia barter dengan pakaian. Pergi bawa dagangan, pulang bawa dagangan pula. Pakaian ini kemudian dijual di kampung halamannya. Banyak ibu-ibu yang diberikan untuk mengerjakan tiga kebun miliknya, ditanami ubi yang kemudian diolah jadi sagu.

Dua pekerjaan itu belum membuat hidupnya membaik. Kadangkala, jika uang tak cukup membeli makanan, BI membawa anak istrinya ke rumah pengampunya dulu sewaktu SMA, untuk menumpang makan. Tak jarang pula sebungkus nasi dinikmati bersama anak istri. Suatu malam anaknya demam malaria, uang tersisa 10 ribu, hujan tak henti mengguyur, motor sudah ditarik pemiliknya. Lima ribu ia gunakan untuk mencari bantuan, pemilik motor mengacuhkannya.

“Saya basah kuyup, menangis sesunggukan sepanjang jalan karena tak bisa membawa anak saya ke dokter atau rumah sakit. Di saat seperti ini, alhamdulillah, Allah membuka jalan. Sahabat saya, Adeko yang masih bujangan saya temui mau meminjamkan motornya. Malam itu juga, saya mengojek untuk membeli obat buat anak saya, juga makanan,”matanya berkaca-kaca mengenang.

Kendati begitu, BI tak patah arang. Seperti prinsip pelaut Bugis-Makassar, “sekali layar terkembang, pantang surut untuk kembali.” Meratapi kondisi hidup tak kan menyelesaikan masalah. Hidup memang harus diperjuangkan. Tahun 2003, Taraweh Djamaluddin (Tedja alm), wartawan senior yang hidup di rantau kembali ke Ternate membuka lowongan untuk media Tabloid mingguan Cermin Reformasi. BI beranikan diri melamar dan diterima. Sambil meliput berita, ia ngojek. Berharap gaji yang sangat pas-pasan, tak cukp lima ratus ribu, itupun tiga bulan sekali diterima sebesar itu, bisa-bisa mati kelaparan.

Dua tahun jadi wartawan, BI mengikuti pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan Cermin Reformasi bekerja dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta, di Ternate. Wartawan kawakan yang juga tokoh pers nasional antara lain Atmakusumah Astraatmadja, TD. Asmadi, Warief Djadjanto Boesoerie, dan Maskun Iskandar adalah gurunya di pelatihan ini. BI lulus terbaik kategori disiplin tinggi.

Ia “pensiun” sebagai pengojek saat mendirikan Posko Malut, 11 Januari 2010. Sebelumnya, ia memimpin harian Cermin Reformasi, yang cetak Senin Kamis karena kondisi mesin, pusing pula menyediakan bahan baku. Dr Kasman H. Ahmad, Dosen BI di IAIN, juga senioranya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang hafal betul bagaimana BI waktu kuliah, pun mengakui tak pernah membayangkan mantan mahasiswanya itu akan jadi entrepreneur, mendirikan media.

Memaknai hidup martin Heidegger, salah satu filosof eksistensialis besar Abad 20 menyatakan, setiap orang mengalami fenomena, dan memaknai sendiri fenomena itu (Kahija, 2017). Dalam Islam, eksistensi manusia disebut khalifatullah filardh. BI merasa tugas kekhalifaannya bermakna, jika ia mampu membahagiakan kedua orangtua, anak istri, keluarga, dan menabur kebaikan pada orang lain, sekalipun kebaikan itu gampang dilupakan orang saat terantuk “kerikil.” Jalan ke arah ini ialah dengan mendidik kemandirian diri sendiri, sebab bagaimana mungkin bisa melakukan itu jika diri sendiri masih berharap uluran tangan orang lain.

Wajar, BI mati-matian menekuni berbagai pekerjaan. Dan di antara pekerjaan itu, jurnalistik dan pebisnis media-lah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untuknya, agar ia bisa mewujdukan impian, termasuk seperti idolanya, Dahlan Iskan, pendiri Jawa Pos Grup. Kata pakar otak kanan Ippho Santosa, manusia harus berupaya “memantaskan diri” sebelum dipantaskan oleh Tuhan.

Kendati demikian, ia mengakui jasa besar istrinya.”Saya beruntung memiliki istri yang sangat sabar dan setia. Jika tidak, akan lain ceritanya, hidup saya tidak seperti ini.” Pengakuan ini menguatkan pandangan bahwa di balik kesuksesan sesorang suami tak lepas dari peran besar sang istri. Maka, jangan pernah setitikpun melukai istri.

Dari secuil kisah hidup BI, tak salahnya kita berkaca, memetik hikmah, bahwa untuk hidup bermakna seperti petuah Sutan Sjahrir, harus diperjuangkan, karena “Allah tak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mengubah nasibnya sendiri,” Sejumlah ahli tafsir memaknai salah satu ayat Al-Quran ini, ada peran penting manusia di dalamnya. (*)

Komentar