oleh

Komnas Kajiskan Laksanakan Sidang Bahas Estimasi Stok SDI

JAKARTA, LM – Pengelolaan perikanan bertujuan untuk tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan, serta terjaminnya kelestarian sumber daya ikan dengan memperhatian 3 aspek utama yaitu ekologi, ekonomi dan sosial.  Strategi Pengelolaan Perikanan tersebut dilakukan melalui pengelolaan berkelanjutan, yang memberikan gambaran terkait penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pelaksanaan pembangunan bidang kelautan dan perikanan pada saat ini.

Prinsip pengelolaan berkelanjutan untuk sumber daya ikan di laut  dilakukan melalui upaya pengelolaan penangkapan ikan di laut lebih diarahkan pada pengendalian dan penataan faktor produksi untuk menghasilkan pemanfaatan yang berkesinambungan. Salah satu hal yang penting untuk pengendalian dan penataan faktor produksi yaitu data stok sumber daya ikan (SDI).  Penetapan stok SDI dalam Permen Komnaskajiskan direkomendasikan oleh Komisi Nasional Pengkajian Sumber Daya Ikan (Komnaskajiskan)  kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.

Komnas Kajiskan merupakan Lembaga ad hoc dibawah Menteri Kelautan dan Perikanan beranggotakan 35 orang pakar dan akademisi dari Lembaga Riset, Perguruan Tinggi dan Lembaga swasta lainnya.  Dalam rangka penguatan rekomendasi ilmiah dalam periode kerja 2020 – 2023 terdapat perwakilan anggota di setiap 11 WPPNRI yang nantinya membangun sinergitas dan jejaring di daerah dalam penyediaan data informasi ilmiah guna mendukung pelaksanaan kajian stok.

Dalam melaksanakan tugas pertamanya, Komnas Kajiskan telah mengadakan Sidang ke-2 pada 11-12 Juni 2021.  Sidang ke-2 dilakukan untuk tujuan menetapkan Stok SDI Laut  tahun 2021.  Hasil sidang Komnas Kajiskan ke-2 ini akan digunakan sebagai acuan berbagai pelaksanaan pembangunan kelautan dan perikanan.  Pokok pembahasan pada sidang ke-2, meliputi hasil analisis dan perhitungan atas stok sumber daya ikan di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) yang disusun oleh Balai Riset Perikanan Laut melalui kegiatan Prioritas Nasional Kajian Stok SDI selama 2017 – 2020 dengan target memperbaharui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50 Tahun 2017. Acara dibuka oleh Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Sjarief Widjaja.

Dalam sambutannya, Sjarief mengapresiasi kinerja Komnas Kajiskan yang telah memberikan masukan dan rekomendasi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan melalui penghimpunan dan penelaahan hasil penelitian/pengkajian mengenai sumber daya ikan dari berbagai sumber, termasuk bukti ilmiah yang tersedia (best scientific evidence available), dalam penetapan potensi dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan sebagai bahan kebijakan dalam pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab (responsible fisheries) di WPPNRI.

“Untuk itu saya mengundang para profesor, doktor, agar berkenan membuat pola ilmiah di fakultas masing-masing sesuai WPP nya, sehingga riset ke depan kita lebih fokus per komoditasnya. Ini sebagai dasar kebijakan pemerintah mewujudkan pertumbuhan ekonomi,kesejahteraan rakyat,dan perlindungan alam,” tegas Sjarief.

Pada kesempatan tersebut, Sjarief kembali menggaungkan tiga terobosan Menteri Trenggono tahun 2021 – 2024, yakni (1) Meningkatkan  Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sumber daya alam perikanan  tangkap dan kesejahteraan  nelayan; (2) Menggerakkan  perikanan budidaya untuk peningkatan  ekonomi masyarakat yang didukung riset kelautan  dan perikanan  untuk keberlangsungan  sumber daya laut dan perikanan  darat dan (3) Membangun kampung-kampung  perikanan budidaya tawar, payau dan laut berbasis kearifan lokal.

“Program terobosan tersebut telah membawa pengelolaan  kelautan dan perikanan pada era baru. Potret kebijakan pembangunan kelautan dan perikanan di level nasional dan daerah bermuara pada kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan sumber daya perikanan diharapkan dapat menjadi pondasi keberlanjutan pembangunan dalam periode pemerintahaan ke depannya,” jelas Sjarief.

Sebagaimana diketahui, volume produksi perikanan perikanan tangkap di Indonesia memiliki peran yang besar terhadap produksi perikanan tangkap dunia. Hal tersebut tercantum pada laporan The Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2018,  yang menyatakan bahwa Indonesia telah berkontribusi terhadap produksi hasil tangkapan dunia sebesar 7,19 persen (6,54 juta ton) pada tahun 2016 atau satu tingkat di bawah Tiongkok sebesar 17,56 juta ton (19,29 persen). Sedangkan dalam data FAO tahun 2020, Indonesia menduduki peringkat 3 dibawah Tiongkok dan Peru untuk produksi perikanan tangkap laut terbesar dan menyumbang 8 persen dari produksi dunia.

“Tantangan dan tugas Komnas Kajiskan ke depan akan semakin meningkat untuk memberikan kajian dan rekomendasi pengelolaan perikanan pada 11 WPPNRI dan 14 WPPNRI perairan darat.  Terdapat 11 Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) WPPNRI yang sedang dalam proses revisi dan beberapa RPP berbasis komoditas juga sedang dikaji dan direvisi,” ujarnya.

“Untuk itu, Komnas Kajiskan harus dapat menjawab isu dan tantangan pengelolaan perikanan dan kelautan di Indonesia seperti subsektor perikanan tangkap dalam menyejahterakan nelayan atau pelaku usaha sekaligus menjaga keberlangsungan sumber daya ikan tersebut,” tutup Sjarief.

 Sumber : SIARAN PERS
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Nomor: SP.599/SJ.5/VI/2021.
Postingan : HUMAS BRSDM

Komentar