oleh

Mega Proyek Waterfront City Morotai Tak Sesuai Master Plan

DARUBA – Mega Proyek Kementrian PU-PR, yakni Pembangunan Water Front City (WFC) atau Kota Ditepi Laut yang dibangun disebelah Taman Kota Daruba, sudah sampai pada tahap akhir 100 persen rampung. Senin. Namun kondisi Waterfront Cit tidak sesuai Master  Plan karena sejumlah pekerjaan lain  seperti satu menara dan dua gedung , jembatan berbentuk pohon kelapa serta kolam renang seperti yang terlihat dalam Master Plan  juga tidak ada, selain itu fasilitas berupa toilet juga belum selesai di kerjakan.

“Itu proyek APBN, tidak ada lanjutan lagi,  kan sudah selesai 100 persen. Kalau ada yang kurang, seperti pohon-pohon itu kan belum ada, nah itu yang nanti di anggarkan lewat APBD. Tapi kalau dari pihak Kementran PU-PR, untuk bangunannya sudah selesai, kan sudah PHO,” ungkap Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) Pulau Morotai, Abubakar A Rajak, ketika dikonfirmasi media ini senin(19/8/2019) terkait lanjutan pembangunan WFC.

Ia menuturkan, untuk semua kekurangannya, nanti dituntaskan melalui APBD. Hanya saja, tahun ini belum ada pekerjaan lanjutan untuk WFC karena tidak dianggarkan dalam APBD 2019. Ini bisa dilihat dari tidak adanya aktifitas pekerjaan di lokasi WFC selama delapan bulan terakhir.

“Kemungkinan nanti di 2020 baru di anggarkan kembali lewat APBD untu kelanjutan pembangunannya,” ujar Abubakar.

Ditanya soal total anggaran yang di gunakan untuk mega proyek tersebut, Abubakar mengaku lupa.

“Anggarannya saya lupa. Tapi proyek WFC itu tendernya ada dua Balitbang. Satu Balitbang khusus jalan dan satunya Talud, jadi dia terpisah,”katanya.

Master Plan Waterfront City Morotai

Amatan media lintasmalut.co.id terlihat jelas pembangunan WFC yang telah diklaim rampung 100 persen itu, ternyata tidak sesuai dengan yang terlihat dalam master plannya.

Bila diamati, dari lima bangunan (dua menara dan tiga gedung seperti yang terlihat dalam master plannya), hanya ada satu menara dan satu gedung yang baru dibangun dibangun.

Sementara, jembatan berbentuk pohon kelapa serta kolam renang seperti yang terlihat dalam Master Plan  juga tidak ada. Sudah begitu, fasilitas seperti , toilet juga belum selesai di kerjakan. Bahkan sisah-sisah material masih terlihat berserakan di lokasi WFC. Juga tidak ada pepohonannya, hal ini membuat lokasi WFC terlihat gersang dan kotor.

Padahal, WFC sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Pulau Morotai khususnya di Ibu Kota Daruba. WFC bahkan disebut-sebut bakal merubah wajah pantai kota Daruba menjadi indah layaknya kota-kota moderen pada umumnya, dan digadang-gadang bakal menjadi salah satu icon wisata terkemuka di Morotai.

Lokasi WFC sendiri dibangun di kawasan pantai yang berdekatan dengan Taman Kota Daruba yang dulunya dikenal dengan kawasan kampung Cina. Saat pertama kali di perkenalkan pada awal 2018, proyek WFC ramai diperbincangkan oleh masyarakat Morotai, bahkan sempat menjadi trending topik di media sosial bahkan  pujian dari berbagai kalanganpun kerap dilontarkan kepada Bupati Benny Laos, karena dinilai sukses dalam programnya untuk menata pesisir pantai Kota Daruba.

Pujian warga ini sangat wajar, karena bila dilihat dari master plannya, desainnya cukup moderen, bisa dijadikan sebagai lokasi kuliner dan olahraga. Namun sangat miris bila melihat kondisi WFC saat ini.

Dari data sebelumnya yang di ambil melalui Bappeda Pulau Morotai proyek ini menghabiskan anggaran kurang lebih Rp 26,5 milar, anggaran tersebut bersumber dari sharing dana APBD senilai Rp,6,5 milar untuk reklamasi dan timbunan. APBN senilai Rp,20 milar untuk pembangunan talud, penataan ruang terbuka hijau,  jalan akses dan joging track. (fik)

 

Komentar