oleh

Menakar Kembali Nilai Persaudaraan Antar Masyarakat Maluku-Maluku Utara

-OPINI-40 views

“Momentum Bulan Ramadhan Dalam Pendekatan Islam Kepulauan”

Oleh:

Muhammad Sakti Garwan

Mahasiswa Pascasarjana Studi Qur’an Hadis

Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam

(UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Ramadhan adalah bulan dimana kita ditempa dan diajarkan banyak hal sebagai sebuah latihan secara rohani dan jasmani, ramadhan juga tentu mempunyai makna sendiri-sendiri pada setiap  orang yang menjalankannya. Hal yang paling penting dari ramadhan adalah bagaimana ketika kita berada pada bulan ramadhan ini hingga selesainya bulan ramadhan dapat bermanfaat bagi kehidupan kita masing-masing. Puasa sebagai ibadah inti pada bulan ramadhan ini dan didukung oleh ibadah-ibadah lainnya yakni tarawih, witir, qiyamul lail, dapat dijadikan sebuah alat untuk melatih diri kita, sembari bermuhasabah pada diri kita tentang apa yang kita alami pada bulan-bulan atau waktu-waktu sebelumnya, kalau saja setiap perbuatan secara lisan, tulisan, bahkan tindakan, membuat orang lain tersakiti dan membuat kita terpisah antara satu sama lain dikarenakan sebuah perbedaan pada masalah duniawiyah saja, yang dapat meruntuhkan nilai-nilai kedamaian dan persaudaraan antara sesama, khususnya yakni sesama masyarakat Maluku-Maluku Utara ini.

Di tengah carut marutnya permasalahan yang terjadi di negeri ini antara sesama manusia atau masyarakat yang ada di Indonesia, hingga membuat terjadinya kesenjangan sosial, yang melahirkan sebuah “Gap” antar sesama, dan ketidaksenangan secara material, yang hadir dalam diri atau bahkan kelompok pada masing-masing orang, membuat diri kita seharusnya selalu berikhtiar tentunya dalam hal menjaga keutuhan dan kesatuan antar sesama masyarakat, khsusunya masyakarat Maluku-Maluku Utara ini. Inti dibalik terjadinya suatu problem adalah bagaimana kita sebagai umat manusia di uji untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan dari bangsa Indoenesia itu sendiri ditengah perbedaan dan keragaman yang kita miliki, baik dalam hal berpendapat bahkan dalam hal perbuatan pada masyarakat Maluku-Maluku Utara itu sendiri.

Perbedaan dan keragaman dalam penafsiran Islam pun merupakan sebuah kenyataan sejarah sosial yang sudah lama terjadi dan menghiasi dunia akademik Islam. Keragaman penafsiran tersebut merupakan sebuah hal-hal yang tidak tersurat secara lengkap dan kuat dalam teks-teks ke-Islaman. Keragaman tersebut mengindikasikan bahwa Islam adalah agama yang membawa dan bernaungan rahmat bagi setiap manusia. Nabi Muhammad sendiri berkata bahwa “perbedaan pendapat di antara umatnya adalah rahmat”. Al-Qur’an sendiri memberi peluang yang sangat luas untuk pengembangan kreativitas manusia dalam memecahkan persoalan-persoalan yang mereka alami pada masa mereka hidup sesuai dengan konteksnya masing-masing dan tidak dipaksakan untuk mengikuti konteks orang lain, dikarenakan setiap konteks tentu memiliki eksistensi dan keadaan yang berbeda, karena manusianya pun mempunyai akal masing-masing yang di dalamnya membentuk kreatifitas manusia yang berbeda pula.

Maluku-Maluku Utara merupakan bangsa yang sejatinya mempunyai sebuah kesamaan dalam berbagai sisi kehidupan yang melahirkan sebuah tujuan yang sama dikarenakan berasal dari bangsa yang satu, yakni “Maluku”, yang pada masa sekarang ini, kita dipisahkan secara garis teritorial pemerintahan saja, dimana hal itu hanya berlaku pada ranah urusan pemerintahan saja, namun secara batiniah atau keadaan sosial, dari mulai adat, tradisi, sejarah, sosial bangsa ini memiliki sebuah relasi yang sangat kuat dalam merajut kebersamaan yang sudah ditunjukan oleh para leluhur-leluhur kita tanpa melihat siapa yang paling hebat diantara kita, namun setiap orang dan sesama kita yang mampu melindungi bangsa ini dari segala bentuk kekacauan-kekacauan antar sesama.

Dapat dijadikan sebagai sebuah contoh, dimana ada sebuah falsafah dari Maluku Utara khususnya Ternate yang menyatakan tentang bagaimana menyetarakan setiap kehidupan secara sama rata adalah ungkapan “Jou Se Ngofa Ngare”, dalam artian bahwa penyamarataan kedudukan antara raja dengan rakyat yang saling merasakan antara satu sama lain, dalam kesimpulan yang menyatakan bahwa “aku adalah kamu, dan kamu adalah aku”, dimana yang menjadi sebuah landasan dalam kehidupan di Ternate dan Maluku Utara secara umum yang menandakan bahwa hubungan antara masyarakat dan rajanya juga masyarakat dengan masyarakat juga yang diibaratkan dengan satu tubuh manusia, yang mana kalau salah satu bagian tubuh merasa sakit maka bagian tubuh yang lain pun akan merasakan demikian. Hal ini juga digambarkan Rasulullah SAW, bagaikan satu tubuh. Hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir yakni “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Tidak hanya berhenti disitu, bangsa Maluku dalam artian Ambon dan sekitarnya pun mempunyai sebuah falsafah menarik tentang bagaimana merajut kebersamaan antar sesama masyarakat bahkan dengan rajanya yakni falsafah “Ale rasa beta rasa, potong di kuku rasa di daging”, yang mempunyai makna yang sangat berharga bagi orang-orang Maluku dalam rangka saling menjaga satu sama lain, dalam konteks antar sesamanya bahkan ketika mereka merantau hingga berada di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya, hingga tidak menimbulkan perpecahan antara sesama melainkan saling menjaga satu sama lain dalam hadis nabi juga bila disinggungkan bahwa “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain” (H.R. Muslim).

Kedua falsafah itulah yang menjadi sebuah batu loncatan yang harus dimanifestasika dalam kehidupan nyata pada era sekarang ini dalam menjaga keutuhan antara sesama, tanpa melihat apa agama kita, apa kedudukan kita, apa suku, adat dan juga budaya yang berbeda antara kita, juga tanpa melihat siapa yang paling benar diantara kita. Kedua falsafah itu kemudian kita angkat, dan dijadikan sebagai sebuah landasan awal demi menjaga kedamaian antara sesama umat manusia, seperti yang diharapkan oleh para leuluhur-leluhur kita, dan pastinya dari sang pencipta kita Allah SWT. Sayyidina Ali, pernah berkata “Mereka yang bukan saudara se-imanmu, berarti mereka adalah saudara kemanusiaanmu”.

Tentu yang paling menjadi dasar fundamental pada setiap jiwa orang-orang bangsa Maluku adalah arti dari nama Maluku itu sendiri yakni tentang “negeri para raja”, dimana pemaknaan raja disini bukan secara tahta maupun kedudukan, melainkan sifat raja atau pemimpin yang harus dimiliki oleh setiap orang-orang di bangsa Maluku tersebut, jikalau disinggungkan dalam al-Qur’an Q.S. al-Baqarah: 30, bahwa manusia sebagai “khalifah” yani pemimpin atau wakil Tuhan di muka bumi ini yang harus merawat dan menjaga apa saja yang ada di bumi ini, juga sebuah hadis Nabi SAW yakni, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung-jawabannya” (HR. Bukhari, No. 4789).

Seorang raja atau pemimpin tentu paling tidak haruslah mempunyai 3 unsur, yang dalam hal ini dapat 3 unsur yang dimiliki oleh dalam diri masyarakat bangsa Maluku, yakni “khalifah” yang berarti pengganti, “Imam” yang berarti yang di tuju atau yang diteladani, dan “Ulil Amri” yang berarti “pemerintah” dalam hal orang yang mengurusi segala urusan kita, bahkan dapat dikatakan orang yang bisa kita perintah juga orang yang memerintah kita. Dari ketiga unsur ini kalau kita maka dapat berarti bahwa, pertama, masyarakat bangsa Maluku yang memiliki jiwa kepemimpinan itu harus berada di belakang supaya dia bisa mendorong masyarakat lain agar menuju ke arah yang lebih baik, kedua, dia harus berada di depan atau orang yang di tuju atau juga teladan agar dia bisa menjadi teladan atau pedoman bagi masyarakat lain, kemudian ketiga, masyarakat Maluku itu harus berada di tengah-tengah masyarakat lain agar dapat merasakan apa yang dialami oleh masyarakat dan masyarakat bangsa Maluku juga harus siap diperintah dalam artian dapat melayani masyarakat lain dalam membantu memenuhi segala kebutuhan yang di inginkan oleh masyarakat.

Tiga unsur inilah yang mana harus ada dalam setiap diri kita yakni masyarakat bangsa Maluku ini, dalam rangka menjaga kebersamaan antara kita dan saling bertoleransi antara satu dengan yang lain, tidak hanya untuk sesama orang Islam saja melainkan kepada saudara-saudara non-Muslim kita, tidak hanya sesama orang Maluku saja namun kepada orang di luar Maluku pun sama, dikarenakan kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang diberikan tugas yang sama dan dengan tujuan yang sama yakni meggapai sebuah kedamaian di dunia dan di akhirat.

Dalam Islam pun mengajarkan betapa pentingnya menjaga silaturahim dan juga menjaga tali persaudaraan antar sesama yang di jelaskan lewat firman Allah SWT, yakni “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu perbaikilah hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-Hujurat: 10), sebagai bulan yang penuh rahmat, sudah tentunya ramadhan memberikan sebuag solusi yang sangat mujarab, bila mana kita pergunakan ramadhan ini sebaik mungkin, dalam rangka memperbaiki hubungan kita antar sesama, bila ada perselisihan diantara kita, maka diselesaikan dengan cara yang baik dan tidak merugikan salah satu pihak, agar rahmat dari Allah SWT selalu menyertai diri kita masing-masing.

Dalam momentum ramadhan juga tentunya sebagai bulan dimana kita ditempa ini, marilah kita bermuhasabah pada diri masing-masing, jikalau beberapa bulan belakangan sering kali kita belum dapat menerima perbedaan, namun pada bulan ini sebagai bulan yang penuh rahmat, sebagai bulan petunjuk ke arah yang lebih baik, yang mana di dalamnya terdapat peristiwa turunnya sebuah pedoman petunjuk manusia yakni al-Qur’an, yang merupakan “sebuah pembeda antara yang “haq” dan “bathil” (Q.S al-Baqarah: 185), sehingga kita dapat memperbaiki diri, tidak secara fisik, namun secara batiniah rohani pun haruslah kita perbaiki untuk dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Dan juga menjadi sebuah bentuk kasih sayangnya Allah kepada hambanya, hingga diberikan sebuah malam yang paling berharga dari seribu bulan, yakni “Lailatul Qadar”, sebagai malam kemuliaan pada bulan ramadhan, dan sebagai waktu yang paling ampuh bagi manusia untuk memohon ampun atas segala dosa dan perbuatannya, dari mulai terbenammnya matahari hingga terbitnya fajar (Q.S. al-Qadr: 1-5).

Setiap perbuatan tentu mempunyai ganjaran yang setimpal nantinya, jikalau manusia terus menerus selalu berada dalam keadaan yang sulit maka sudah seharusnya manusia itu juga yang memulai untuk memperbaiki dirinya agar menjadi lebih baik dan dapat menjaga hubungannya dengan Allah SWT dan juga kepada sesama manusia (hablumminallah-hablumminannas)  yang dikontekskan pada sesama masyarakat Maluku-Maluku Utara.

Allah SWT berfiman, yakni “Allah tidak akan merubah suatu kaum, melainkan kaum itu yang merubah dirinya sendiri”(Q.S. ar-Ra’ad: 11). Hal ini dilakukan agar ketika kita meninggalkan bulan ramadhan kali ini, kita dapat menjadi orang-orang yang fitrah, laksana “bayi yang baru keluar dari rahim seorang ibu”, yakni bersih dari segala dosa-dosa dan kita kembali menjalani hidup yang lebih baik lagi kedepannya dengan saling menghormati, antara sesama dan saling menjaga hubungan silaturahim diantara kita, khususnya kepada masyarakat Maluku-Maluku Utara ini atau bangsa Maluku ini.

Wallahu A’lam Bissawab

Illa  Aqqawami Thariq

Wassalam

Komentar