oleh

Mencegah Stres Politik

-OPINI-67 views


Mencegah Stres Politik
Oleh
Siti Nur Alfia Abdullah
Mahasiswi UIN Jogja

Dunia politik saat ini dikejutkan dengan berbagai informasi dan pemberitaan yang tiada habisnya dari berbagai sumber. Pasca pemilihan umum, pemberitaan oleh media massa yang berkaitan dengan penghitungan suara siapa yang lebih unggul, dan akan menjadi pemenang dalam pertarungan politik, di tahun 2019 ini kian marak dan tak tertahankan lagi. Baik pemilihan presiden maupun legislatif tentu merasa penasaran menunggu hasil real dari KPU sendiri. Momen ini pastinya sangat berpengaruh terhadap keadaan emosional dan psikis seseorang, dimana mereka akan terus memikirkan bagaimana hasil dari pemilihan umum tersebut. Bahkan di beberapa daerah dikabarkan hampir ratusan lebih jiwa penjaga TPS telah meninggal dunia akibat kelelahan, wallahu alam bisawab.

Sebenarnya wajar-wajar saja sebagai manusia biasa untuk memikirkan hal-hal yang menyangkut dengan keadaan diri, apalagi hal yang berkaitan dengan politik saat ini, para calon pemimpin memikirkan sikap apa yang hendak dilakukan jika terpilih nanti atau kemudian mencari solusi-solusi ikhtiar apabila nantinya tidak lolos dalam pemilihan umum atau berfikir untuk terus optimis bahwa nantinya akan menang, ya meskipun pada akhirnya tidak lolos, its okay why not. Namun terkadang kita lupa bahwa memikirkan sesuatu yang berlebihan akan berdampak buruk terhadap diri sendiri.

Sebagaimana yang kita ketahui Bersama, pemilu raya merupakan pesta demokrasi, dimana seluruh lapisan kehidupan masyarakat turut andil dalam mensukseskan pemilihan umum tersebut. Pemberitaan di media massa seperti Tempo, Kompas, CNN, dan Detik com menyebutkan sejauh ini kurang lebih tiga ratusan anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal dunia dan tiga ribu lebih anggota KPPS jatuh sakit. Menurut sumber berita, dijelaskan bahwa musibah tersebut disebabkan oleh kondisi tubuh anggota KPPS yang terlalu Lelah bekerja, dalam mengawasi dan mengontrol jalannya pemungutan suara dengan baik, sehingga ada beberapa diantara mereka yang meninggal dan lainnya mengalami gangguan kesehatan hingga sakit.

Dari beberapa kasus yang telah disebutkan di atas, stres politik ini tidak hanya merambat kepada penyelenggara pemilu saja, keadaan tersebut juga menimpa calon legislatif di beberapa daerah, isu baru-baru ini yang berkembang terdapat beberapa calon legislatif yang mengambil kembali bantuan aspal, ada yang mandi kembang, nekat membakar surat suara, sampai pada tahap meninggal dunia. Hemat penulis hal ini diakibatkan oleh ketidak siapan mereka dalam menghadapi pertarungan politik. Momen pesta demokrasi kali ini dirasa paling panas dan sangat mengkhawatirkan, ditambah pemberitaan soal pemilu di media massa yang kian menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Untuk mengatasi stres politik ini, ada beberapa hal yang bisa di praktikan yaitu.
Komunikasi Interpersonal

Mengatasi stres dengan melakukan komunikasi interpersonal merupakan cara yang efektif untuk di coba, menurut Pieter komunikasi interpersonal pada hakikatnya merupakan, media membangun jalinan hubungan interaktif antara seseorang dengan orang lain. Komunikasi intar personal dilakukan dengan cara tatap muka, dan memungkinkan setiap orang memberikan respon terhadap pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan, baik dilakukan secaraa verbal maupun non verbal. Dalam komunikasi interpersonal mengandung rangsangan dari masing-masing pihak, yang mengandung arti atau makna, baik bersifat informasi, pemikiran, pendapat dan nilai-nilai yang berbeda.

Sehingga komunikasi jenis ini dirasa paling pas untuk meluapkan seluruh curahan hati, misalnya menceritakan suasana hati kepada suami atau istri, bermain bersama anak, berkumpul dengan keluarga kemudian membicarakan hal-hal positif yang membangun diri dan termotivasi untuk tidak terus menerus merasa bersedih, dengan demikian kita tidak mudah terkena stres, karena komunikasi interpesonal juga memiliki efektivitas dalam penyampaian pesan secara timbal balik. Realitanya berkumpul dengan keluarga adalah hal yang paling membahagiakan, di dalamnya ada ayah, ibu, suami, istri, anak, dan yang lainnya, dimana mereka merupakan bagian terpenting dan anugerah terindah dari Tuhan dalam kehidupan kita, berkomunikasi dengan keluarga yang kita sayang memberikan energi positif yang besar terhadap diri untuk terus semangat, rasanya semua penat di dalam diri segera teratasi ketika berkumpul dengan keluarga, oleh karena itu komunikasi interpersonal yang dilakukan di rumah dan keluarga bisa dicoba dalam mencegah stres.
Tingkatkan Kualitas Ibadah

Meningkatkan kualitas ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah tips yang sangat penting dan memiliki efek yang baik terhadap keadaan jiwa kita semua. Percaya tidaknya ketika seorang melakukan ibadah misalkan umat islam menunaikan ibadah shalat, pastinya ada ketenangan batin tersendiri yang kita rasakan, ada kenyamanan, dan kedamaian dalam jiwa dan raga ketika sujud kepada Allah, hal ini tidak bisa dipungkiri lagi. Dalam hal beribadah, selain ibadah shalat, berdzikir mengingat Allah juga menjadi bagian yang terpenting, berdzikir tidak sekedar dilakukan dengan lisan namun dzikir juga untuk setiap perbuatan yang kita lakukan, selain itu berdo’a dengan memohon rahmat dan keteguhan hati untuk bisa menerima kenyataan dan diberi kekuatan dalam setiap langkah kehidupan. Do’a merupakan cara berkomunikasi seorang hamba dengan Pencipta-Nya, dengan berdo’a kita begitu leluasa mengungkapkan semua rasa gunda gulana, resah gelisah yang ada dalam diri, dengan berdo’a kita akan merasa begitu bebas dan puas setelah mengungkapkan semua rasa yang ada, do’a adalah cara yang paling ampuh untuk meminta kepada Allah Swt.

Bentuk ibadah yang tak kalah efektif adalah bertawakal kepada Allah, kita yakin dan percaya setiap usaha yang sudah kita lakukan haruslah ada sikap tawakkal atau berserah diri kepada Allah. Timbulnya stres, lebih banyak disebabkan oleh kita manusia yang senantiasa berpikiran negatif daripada berpikiran positif. Padahal kita tahu setiap bentuk kejadian, qadha dan qadar yang menimpa diri tidak lain adalah ketentuan dari Allah yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebagai makhluk yang berakal hendaknya kita yakin dan berimana kepada Allah, dengan berserah diri namun tidak pasrah. Orang yang memiliki sikap tawakkal adalah mereka yang sabar, tabah dan sadar akan ketentuan Allah, sehingga tidak merasa cemas, galau, apalagi sampai stres berkepanjangan. Jika sikap beribadah shalat, berdzikir, berdo’a dan tawakkal ini dijadikan prinsip dalam kehidupan kita, yakin dan percaya kita tidak akan mudah terkena stress.

Sekali lagi menghadapi fenomena politik dengan sikap yang berlebihan hingga timbul stres, sangat tidak menguntungkan. Menang dan kalah itu soal biasa, yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai anak negeri ini, pemuda bangsa indonesia untuk terus bangkit dan berjuang demi kemaslahatan bersama.

Penulis :
Siti Nur Alfia Abdullah
Mahasiswi UIN Jogja

Komentar