oleh

Sediakan Pengacara untuk Purnomo, Ketua IKA PMII Tikep Dinilai ‘Lebay’

TIDORE – Sikap Ketua Ikatan Alumni Pergerekan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kota Tidore Kepulauan Murad Polisiri bakal menyediakan pengacara untuk mendampingi Purnomo Ahmad terkait dugaan Fitnah yang dilaporkan oleh Fadli Abd. Kadir mendapat sorotan dari Alumni PMII.

Fardi Hamid salah satu Alumni menilai Murad Polisiri terlalu cepat berkesimpulan atas masalah yang dialami oleh kedua kader PMII tersebut, baik Purnomo maupun Fadli, sehingga langkah untuk menyediakan pengacara mendampingi purnomo dianggap ‘lebay’.

Menurutnya, jika Murad Polisiri merasa bahwa Purnomo adalah Kader PMII yang patut mendapat pembelaan hukum, seharusnya dia tidak menutup mata dengan keberadaan sahabat Fadli yang juga merupakan kader PMII. Murad seharusnya mengambil langkah untuk memfasilitasi kedua kader tersebut untuk diselesaikan masalahnya secara kekeluargaan, bukan malah ikut memperkeruh suasana yang pada akhirnya membuat ketidakharmonisan di internal IKA PMII Tidore.

“Masalah Fadli dan Purnomo inikan bukan masalah Organisasi, melainkan kesalahpahaman yang terjadi di kampung mereka, seharunya murad sebagai Ketua IKA PMII tidak boleh memandang sebelah mata atas masalah ini, melainkan harus ditelusuri informasinya seperti apa, karena sangat tidak mungkin Fadli mengambil langkah demikian tanpa ada alasan,” katanya.

Selain mengingatkan Murad untuk tidak berlebihan mengatasnamakan Organisasi, Fardi yang juga Wakil Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kota Tidore Kepulauan ini mengingatkan kepada Murad terkait dengan masalah yang dialami Fadli dan Purnomo sebaiknya diselesaikan pada tingkat kelurahan sehingga tidak berdampak buruk terhadap kedua warga PMII itu sendiri.

“Mereka berdua inikan kalau saya lihat punya kepedulian yang sama terhadap warga Guraping terkait dengan Pandemi Corona, maka kita sebagai pihak luar tidak boleh mengambil kesimpulan dan langkah yang terlalu dini tanpa mengetahui kronologisnya seperti apa, lagipula disituasi seperti ini IKA PMII Tidore seharusnya lebih konsentrasi pada kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan upaya untuk pencegahan Corona,” tukasnya.

Sementara itu, Fadli Abdul Kadir menjelaskan, alasan dirinya melaporkan Purnomo ke Polsek Oba Utara dengan dugaan fitnah, dikarenakan dia merasa dirugikan atas nama keluarga Muhammad Sinen terkait dengan postingan status yang dibuat oleh Purnomo yang mencatut nama Wawali. Padahal, substansi masalahnya terletak pada jamaah luar yang datang melaksanakan sholat di Mushollah Guraping, dalam hal ini Ajudannya Wawali.

“Bagi saya soal jamaah luar tidak boleh melakukan sholat di guraping itu sudah menjadi kesepakatan, dan saya tidak mempersoalkan kebijakan itu, yang saya sesalkan kenapa dia harus membuat postingan status yang berisi terkait dengan adanya batal puasa bersama dan kegiatan safari yang terkesan dilakukan oleh Pak Wakil, padahal persoalan tersebut telah dijelaskan oleh ajudan Pak Wakil bahwa agenda itu tidak ada, bahkan saya sendiri juga ikut menyaksikan saat kejadian tersebut berlangsung di Mushollah, karena saat itu saya juga sholat di mushollah tersebut, sementara purnomo saya tidak lihat apakah dia sholat juga atau tidak,” jelasnya.

Ditanyakan mengenai penyelesaian masalah secara kekeluargaan, Fadli mengaku dirinya siap memaafkan langkah purnomo, namun terkait dengan proses hukum ia menegaskan tetap berlanjut.

“Saya ini sudah menganggap Muhammad Sinen seperti ayah saya, dan sejauh ini untuk permasalah di daratan Oba khusunya Oba Utara, Muhammad Sinen tidak pernah menutup mata sehingga telah banyak membantu warga disini, apalagi menyangkut pandemi corona, ketika yang lain masih diam, Muhammad Sinen sendiri yang kemudian turun melakukan pembagian masker serta intens melakukan rapat koordinasi dengan pihak aparat serta Puskesmas untuk melakukan langkah pencegahan, dan jika dia difitnah tentu saya sebagai pihak keluarga tidak akan tinggal diam,” tandasnya. (Anty)

Komentar