oleh

Sesepuh Bajo Angkat Bicara Soal Penghinaan Etnis di Facebook

HALSEL – Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) 9 Desember mendatang sudah menjadi tren para kandidat dan tim sukses beradu strategi demi meraih simpatisan atau pendukung baik di media sosial (Medsos), tempat-tempat Warung Kopi (Warkop) hingga mengkonsolidasikan Kandidat ke Desa-Desa.

Namun sebaliknya, peran para simpatisan dan atau bahkan tim sukses melalui Medsos bukan beradu strategi melainkan menggunakan akun palsu dengan menghujat bahkan mendiskriminasi etnis. Padahal, Maluku Utara khususnya di Halmahera Selatan di huni oleh berbagai macam Suku, Ras, bahkan Agama tanpa membedakan satu dengan lainnya dalam semboyan “SARUMA”.

Hal ini sangat dicedarai oleh salah satu akun Facebook Imel-Imei. dengan bertuliskan “Hai Usman. Kalian suku Makian, Bacan dan Bajo di takdirkan hanya untuk jadi budak jangan maksain kehendak pencipta BK2P harga mati” tulisnya dalam caption Facebook.

Postingan akun palsu atas nama Imei-Imei yang sempat Viral mendapatkan tanggapan dari berbagai kalangan Etnis diantaranya, Makayao, Bacan dan Bajo.

Salah satu tokoh Bajo yang juga mantan anggota DPRD Halsel dua periode Asnawi Lagante menyesalkan tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab dalam tulisnya di FB.

“Assalamu’alaikum.. Sallah Ka Kita Memong Sama. Tentang status ini sya ikuti benar dan juga sudah berikan tanggapan mengajak ybs untuk ‘Nginta Loar Kaluppo’ tpi sya sangat berhati2 dan tdk mau berlebihan untuk mengomentari soalnya selain akun palsu juga ada hubungan dengan pilkada,” tulisnya.

“Tpi dikesempatan ini sya mau bilang… Bajo – Sama itu bukan Suku Lokal yg hanya ada di Halsel saja”… Atau di Maluku-Uatara saja, …atau di Indonesia saja… Bajo-Sama itu ada tersebar mendiami di Hampir seluruh pesisir Asia (Baca Sejara) …. Jadi klau kalian Anggap kami ini hanya seperti budak di Daerah ini itu cuman ngoni pe anggapan saja,” tambahnya.

“Sejara perhelatan Politik di Halmahera selatan 2005, 2010, 2014 kami selalu kompak dan Setia .. Bahkan bisa dikata kami Kunci penentu.. Ini tdk berlebihan, …kenapa…??, … Karna hampir semua bicara dukungan pasti bicara konpensasi di depan atau sesudahnya… Tpi penah kah kalian lihat kami merontah-rontah minta bagian…? Dan sesudahnya karna tdk dapat bagian trang Maraju dan tidak setia lagi…?? Disitulah keluasan Hati kami seluas samudera yg Allah berikan untuk kehidupan kami,” tulisnya lagi.

“Rumah adat di pohon karet di bangun pake APBD sebagai simbul keaneka ragaman suku yg ada di Halsel … Ada kah kalian lihat rumah adat Bajo disana, …?? Padahal kami Sama Bajo Klau mau diurut menurut jumlah penduduk dan jiwa pilih.. kami urutan ke 4 dari sekian jumlah suku yg mendiami Halmahera Selatan dan ada dinegeri ini sebelum kemerdekaan. Sudah berulang kali kami sampaikan untuk Bajo-sama juga bisa dibangunkan rumah adat, bahkan saya dengan beberapa orang kawan bersedia secara pribadi untuk isi Asesoris khas Bajo-sama (sasapa, Lado, Busei, Lelepa, dll) yg penting depe bangunan ada, …Tapi dorang cuman kase janji2 saja….. Tpi pernahkah ngoni lia trang meronta-rontah.. Untuk itu semua… Saya mengajak untuk kita semua… Mari baku bawa bae-bae”, tulis mantan Wakil Ketua DPRD Halsel itu.

Asnawi berharap agar di moment ini jangan di nodai dengan cara-cara Politik yang “kotor” dan pada akhirnya mencederai citra demokrasi. (Bar)

Komentar