oleh

Soal Dugaan Kasus Pengeroyokan, Ini Penjelasan Wawali Tikep

Wakil Wali Kota Tikep Muhammad Sinen didampingi Kabag Humas dan Kepala BPBD (Foto:Alan/lintasmalut.co.id)

TIDORE – Dugaan pengeroyokan dan pemukulan terhadap Aprima Tampubolon (32) warga Dokiri yang diduga di lakukan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan (Tikep) Muhammad Sinen bersama Kepala BPBD Ikbal Saifono dan beberapa ASN, Selasa (9/7) kemarin di Kantor Wali Kota itu tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

Sebelumnya berita yang dirilis media ini edisi (9/7/2019) dengan judul ‘Wakil Wali Kota Tikep dan Kepala BPBD Dipolisikan’ itu tidak sesuai dengan kejadian.

Muhammad Sinen atau Ayah Erik, sapaan akrbnya menuturkan, sangat tidak mungkin seorang Wakil Wali Kota memukul masyarakat di kantor Wali Kota saat menyampaikan aspirasi terkait persoalan di tiap-tiap kelurahan, karena masyarakat saat menyampaikan aspirasi itu tetap dilayani.

“Saya bukan tipe orang seperti itu, kalau dalam momentum-momentum yang lain seperti masalah politik mungkin saya lebih keras, tetapi untuk dalam tugas sebagai Wakil Wali Kota saya sadar benar bahwa saya ini adalah pelayan rakyat tidak mungkin saya melakukan tindakan-tindakan yang seperti yang di muat di beberapa media, ini sangat tidak mungkin,”ungkapnya kepada wartawan di ruangan rapat kantor Wali Kota, Rabu (10/7/2019) pukul 13.30 WIT.

Ayah Erik menjelaskan terkait kejadian kemarin, saat itu dirinya bersama seluruh Pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sedang melakukan pertemuan dan Wali Kota Capt Ali Ibrahim juga sedang menerima tamu, saat pertemuan sedang berlangsung terdengar suara cekcok antara ajudan dan Aprima.

“Saya lagi pertemuan dengan semua pimpinan SKPD terkait dengan persiapan GMC kemudian Pak Wali juga ada terima tamu, yang bersangkutan ini datang dengan anak kecil begitu dalam pertemuan disana sudah dengar ribut di ruangan Wali Kota. Dia adu mulut dengan ajudan walikota, bahkan bahasa yang dia sampaikan Wali Kota dan Wakil Wali Kota gaji dibayar oleh rayat di dalam ruangan Wali Kota terus ajudan dorong yang bersangkutan keluar dan dia duduk diluar,”jelasnya.

Usai pertemuan. Sambung Ayah Erik, dirinya bersama Kepala BPBD Kala sapaan akrbnya keluar kemudian ajudan sampaikan ke Kala bahwa ada masyarakat datang lapor masalah banjir.

“Selesai rapat, saya dengan Kala keluar dan ajudan sampaikan ke Kala ada masyarakat datang lapor masalah banjir dan Kala pun duduk bersama dia, begitu Kala duduk saya datang dan Kala bertanya masalah apa dia bilang saya tadi datang di kamu punya kantor tapi kamu tidak ada, Kala jawab saya ada rapat disini,”ujar Wawali.

“Terus saya tanya ada masalah apa dia jawab kamu duduk disni, saya jawab sabar masalah apa dulu terus Kala bilang itu Wakil Wali Kota dia pun menjawab persetan, kamu duduk, tapi saya tidak tanggapi bahkan saya senyum terus saya tanya kamu orang mana, dia jawab lagi saya orang Dokiri kemudian Kala bilang kamu tidak kenal itu wakil wali kota dia jawab saya tidak kenal, kalian punya gaji samua ini kami yang bayar,”terangnya.

Lanjut Ayah Erik, Kala juga merasa bahwa yang bersangkutan berbicara tidak sopan sehingga Kalapun naik pitam.

“Kamu ini tidak sopan Wakil Wali Kota kamu bicara begitu, lalu dia menjawab dengan nada kasar kepada Kala, terus kamu mau apa. mendengar itu, semua kepala dinas datang kemudian ajudan, Satpolpp juga datang untuk amankan yang bersangkutan,”ucapnya.

Ayah Erik menyebut, terkait tuntutan lokasi di rumah bersangkutan sebelumnya tidak seperti itu, namun ketika yang bersangkutan membuat rumah ada penggusuran sehingga posisi rumahnya lebih menurun. Bahkan ada satu saluran yang ditutup sehingga ketika hujan terjadi banjir.

“Persoalan dia bikan rumah di bawa kan dia bikin penggusuran, jadi posisi dia pe rumah lebih pendek sementara di posisi belakang lebih tinggi dan sebelumnya tidak terjadi seperti itu, dia bikin rumah disitu ada satu saluran drainase yang dia tutup ahirnya kalau hujan terjdi banjir,” ungkapnya.

Ayah Erik menambahkan, penyampaian Aprima dibeberapa media kemarin sangat bertentangan dengan apa yang terjadi.

“Apa yang dia sampaikan di media, ini sangat bertentangan dengan apa yang terjadi kemarin dan ini adalah pembohongan, ini pencemaran nama baik dan saya tidak akan terima jika dia tidak buat permohonan maaf di media, saya akan laporkan ke polisi terkait dengan pencemaran nama baik,” tandasnya.

Sementara itu, Abdul Kader Bubu selaku kuasa hukum Tikep menyampaikan, apa yang dilaporkan oleh pelapor (Aprima-red) itu tidak benar, pelapor juga diberi waktu selama tiga hari untuk meminta maaf dihadapan publik karena tuduhan pemukulan terhadap dirinya itu tidak benar, “kami beri waktu untuk minta maaf kalau tidak dilaporkan balik ke pihak penegak hukum dengan dugaan pencemaran nama baik,”cetusnya. (Alan)

Komentar