oleh

Transformasi Media Sebagai Panglima Perang Dunia Modern

-OPINI-59 views

Upaya Refleksi Ramadhan Dalam Memberantas Penyakit Dunia Modern”

Oleh:
M. Sakti Garwan

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Ρerkembangan teknologi yang kian bertambah, tentu dapat menjadi sebuah hal yang di dalamnya terdapat nilai-nilai positif dan juga negatif. Sebuah teknologi akan terus berkembang dan menyebar tatkala manusia itu sendiri yang mengkonsumsi dan memproduksi teknologi tersebut. Tentu segala bentuk teknologi tercipta setiap tahunnya dikarenakan sifat manusia yang begitu kreatif dalam memanfaatkan akalnya, sehingga membuat teknologi selalu lahir dan membuat semua orang yang merasakannya akan selalu mengkrenyitkan dahi mereka dalam melihat fenomena tersebut.

Teknologi yang kemudian berkembang dan merembes ke seluruh belahan dunia itu menjadi sebuah instrumen penting dalam sebuah negara dan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk dan berbagai sisi hingga unsur dalam sebuah negara. Salah satunya adalah kehadiran media sebagai salah satu perkembangan teknologi yang tak terelakan lagi. Media yang kian hari meletakkan peran penting di dunia modern ini, menjadikan media sebagai sebuah cara dan alat untuk melakukan segala sesuatu, baik berupa tindakan yang bersifat pribadi dan sosial, bahkan peran media pun bisa sampai ke arah pembentukan rohani seseorang, lewat konten-konten religi yang bisa dinikmati pada masa kini.

Kesadaran terhadap perkembangan media menjadi suatu keharusan bagi setiap orang dalam kehidupannya, dikarenakan sejak dari awal media yang hanya muncul lewat alat elektronik seperti televisi, radio dan koran, tetapi sekarang kita dapat menikmati hal tersebut lewat apa yang kita genggam saat ini, yakni gadget kita masing-masing, yang didalamnya terdapat berbagai cara untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan sebagai fungsi positif dan sebagai hal yang dapat merusak pribadi hingga tatanan sosial dalam fungsi negatif.

Media yang dulunya hanya dapat di konsumsi dalam bentuk sebuah organisasi seperti di televisi, radio, dan koran lewat beberapa perusahan media saja, namun tidak dengan apa yang terjadi sekarang. Masyarakat juga dapat menjadi agen yang memproduksi media tersebut dalam bentuk apapun, yang mana kita bisa lihat sekarang dari berbagai postingan lewat aplikasi-aplikas seperti Whatsapp, Instagram, Facebook, Youtube dan lain sebagainya. Hal inilah yang dapat dikatakan sebagai sebuah perkembangan media yang sesungguhnya, dikarenakan yang tadinya masing diproduksi oleh sebuah perusahan saja, namun pada masa sekarang teknologi media tersebut semakin berkembang hingga produksi media dapat berada di tangan masyarakat masing-masing yang secara langsung dapat diproduksi sendiri.

Fenomena tersebut membuat banyak orang kebingungan tentang bagaimana cara menentukan keotentikan media dalam menyebarkan berita tersebut, dikarenakan semakin banyaknya produksi media yang selalu diproduksi oleh masyarakat, disamping itu masyarakat yang memproduksinya tidak mempedulikan mudharat dari media tersebut. Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna dalam hal ini media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi.

Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi. Angka tersebut menunjukan betapa Indonesia menjadi negara yang selalu memproduksi dan mengkonsumsi media baik orang yang ada di kota maupun sampai di desa. Ditambah lagi adanya sebuah tuntutan zaman yang mengharuskan semua orang masyarakat Indonesia harus sadar akan media, demi menghadapi tantangan global dunia ini.

Produksi dan konsumsi masyakarakat akan media yang kian hari kian berkembang membuat tatanan sosial di Indonesia pun terkena dampaknya, dapat terlihat ketika pada masa PEMILU kemarin, dimana kita dapat menyaksikan peran media yang sangat fundamental yang dipermainkan dan diolah oleh segenap masyarakat Indonesia yang tentunya ingin terlibat dan ingin menyuarakan pendapat lewat cara mereka masing-masing, dan dimanifestasikan dalam bentuk media tersebut. Dari sisi ini kemudian kita dapat melihat dan merasakan bagaimana peran sebenarnya dari media dalam membuat tatanan sosial yang berubah-ubah setiap waktu, dan terbukti dapat dikatakan juga media dapat membuat orang yang tadinya baik berubah menjadi jahat, dan begitupun sebaliknya.

Media yang dalam bahasa komunikasi berasal dari kata “mediasi” karena mereka hadir di antara masyarakat dan lingkungan, telah berubah menjadi sebuah hal yang dapat menentukan baik dan buruk orang tersebut tanpa mempedulikan lingkungan sekitar, dan media dalam suatu negara mempunyai kuasa tersendiri dalam menentukan baik dan tidaknya keadaan negara itu.

Media kemudian mentransformasi layaknya panglima perang yang memiliki kontrol atas pasukan militer yang setia kepadanya dimana dalam hal ini pengguna dari media itu sendiri, namun tidak untuk penguasa negara. Hal inilah sehingga dapat dikatakan media sebagai sebuah paglima perang dunia modern. Panglima perang yang merupakan sebuah posisi sangat strategis di bawah posisi raja, membuat ia mampu untuk berbuat apa saja untuk para prajurit-prajuritnya yang dia kontrol. Inilah juga yang menjadi sebuah gambaran dari media dalam konteks Indonesia saat ini.

Dalam sisi lain juga media menjelma menjadi sebuah hal yang meruntuhkan keutuhan dan kebersamaan masyarakat bahkan memberikan kesan buruk bagi pemerintah. Dalam sisi ini mungkin penulis lebih melihat bagaimana orang yang memproduksi media tersebut mempunyai andil yang sangat besar dalam melakukan berbagai hal tersebut, dikarenakan bebasnya penggunaan media itu yang selalu berkembang dan terus berkembang.

Hal ini dapat dikatakan sebuah hal yang buruk dan baik pula, mengapa demikian?, kehadiran media tentu tidak terlepas dari adanya orang yang membuat media itu sendiri, jadi ketika orang yang membuat media itu baik, maka yang akan dilahirkan oleh media tersebut akan baik pula, begitu juga sebaliknya bagaimana orang yang membuat media itu mindset awalnya buruk makan yang dilahirkan pun juga akan buruk.

Beraneka ragamnya konten media yang tersebar itu, tidak terlepas dari pembuat konten media tersebut. Dalam fase inilah penulis lebih mengedepankan sifat empati atau peduli dari kita dan kesadaran kita juga agar setiap apapun yang tersebar melalui media diharuskan kepada kita untuk disaring terlebih dahulu dan mencari keotentikan berita itu hingga ke akar-akarnya, agar kita terhindar dari sebuah penyakit moder pula yakni HOAX, yakni sebuah penyakit yang tanpa sadar terus menyebar dan saling terus menerus menular ketika orang tidak lagi mempedulikan kesehatan pikiran dari konten-konten di media tersebut.

Perlu disadari bahwa persoalan tentang media yang sudah menjelma menjadi panglima perang dunia modern ini adalah bagaimana membentuk kesadaran tiap-tiap pribadi yang mengkonsumsi dan memproduksi media itu, dikarenakan jika dilarang dengan cara yang kejam maka, yang timbul bukanlah kemaslahatan namun keretakan keadaan sosial, karena yang dilarang adalah ekspresi dari masyarakat yang ingin terlibat dalam dunia global yang dimanifestasikan lewat media.

Persoalan ini juga perlu adanya sebuah pendekatan tersendiri dalam mengontrol itu semua, yakni diberikan kesadaran secara batiniah secara terus menerus kepada masyarakat dalam rangka mengurangi hingga sekurang-kurangnya, sampai masyarakat sadar dan paham betapa media juga mempunyai mudharat bagi mereka jika tidak dikendalikan secara baik.

Dalam tatanan suatu negara, penulis beranggapan bahwa dikendalikannya sebuah media bukan dilakukan oleh para penguasa namun dikendalikan sendiri oleh orang-orang yang mengkonsumsi media itu sendiri sehingga ketika mereka ingin memproduksi media kembali untuk disebarkan, maka yang tersebar adalah media dalam unsur-unsur yang positif.

Gerakan refleksi terhadap media haruslah dilakukan secara rutin haruslah dilakukan, dan harus terus berlanjut, mengingat semakin bertambahnya persoalan-persoalan dalam berbagai sisi baik dalam persoalan agama, politik, sosial, ekonomi dan juga pendidikan tentunya, agar kegunaan dari media tersebut yang ditimbulkan adalah hal-hal yang bersifat positif yang berguna bagi orang yang memproduksi media dan juga orang yang mengkonsumsi media, dikarenakan kedua sisi tersebut mempunyai sebuah relasi yang kuat yang saling berkaitan antara satu dengan lainnya.

Dalam segi refleksi terhadap beberapa persoalan media di atas, dalam bahasa agama apapun juga menganjurkan kepada setiap pemeluknya untuk selalu berjaga diri kepada hal-hal buruk yang dapat menimpa mereka, baik dalam pada sisi kehidupan secara nyata maupun dalam kehidupan maya, hal ini terlihat dari berbagai teks-teks kitab suci setiap agama selalu menginatkan hal tersebut, salah satunya adalah dalam agama Islam lewat al-Qur’an, yakni Q.S al-Hujurat: 6
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ ٦
Terjemahannya:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S al-Hujurat: 6)

Q.S al-Hujurat: 6 merupakan sebuah ayat yang sangat menggambarkan bagaimana pentingnya kita dalam menjaga diri dari segala apapun jenis perbuatan dan berita yang datang kepada kita, agar terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri kita masing-masing, maka dari itu, sikap kehati-hatian inilah yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam menghadapi segala sesuatu yakni problem yang ada. Dan waktu yang tepat untuk menambah sikap tersebut adalah pada saat bulan ramdhan seperti, dimana setiap perbuatan baik lisan, tulisan, hingga tingkah laku menjadi hal yang perlu untuk dilatih dan dijaga sehingga ketika kita selesai menjalankan ibadah ramadhan ini, kita dapat menjadi pribadi yang baik hingga menciptakan kedamaian guna memperbaiki tatanan sosial yang telah terkontaminnasi oleh hal-hal yang sifatnya meruntuhkan kedamaian dan kemaslahatan bersama.
شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ
Terjemahannya:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Q.S al-Baqarah: 185)

Bulan ramdhan sebagai bulan tempat turunnya al-Qur’an yakni sebagai kitab petunjuk bagi manusia yang berguna untuk mlihat pembeda antara yang hak dan yang batil, seoerti yang dijelaskan secara literlet pada ayat di atas, menandakan bahwa al-Qur’an dan bulan ramadhan mempunyai solusi tersendiri untuk menyelesaikan problem masa kini, yakni tentang problematika yang terjadi dalam media khususnya. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa jadikanlah al-Qur’an sebagai petunjuk dalam setiap kehidupanmu dimana di dalamnya terdapat banyak sekali cara-cara untuk menangkal hal-hal buruk yang datang dari media, kemudian jadikan juga ramadhan sebagai sebuah waktu dimana kita merefleksikan diri kita masing-masing, dikarenakan terdapat banyak sekali rahmat yang Allah limpahkan kepada kita dalam bulan ramdhan ini.

Konsep ramadhan sebagai bulan penuh rahmat akan hilang tegantung pada orang yang menggunakan ramdhan untuk hal-hal yang tidak berguna bagi dirinya, dikarenakan dalam ramadhan sendiri terdapat unsur-unsur refleksi jiwa yang sangat banyak da berguna pada setiap insan yang merubah dirinya. Nilai-nilai ramdhan juga akan tertanam tidak hanya dalam bulan ramadhan saja, namun akan terus bertahan ketika setiap orang yang menjalankan ibadah ramdhan dengan hikmat dan penuh keikhlasan kepada Allah SWT. Konsep ramadhan seperti inilah yang harus ditanamkan kepada pribadi masing-masing agar segala bentuk apapun yang ada dalam media tersebut dapat berguna bagi dirinya, karena dibalik banyaknya sisi negatif dari media itu sendiri, tentu banyak pula sisi positif yang ada pada media.

Jadikan ramdhan sebagai sebuah langkah untuk mengatasi problem-problem yang ditimbulkan lewat carut marutnya berita-berita bohong yang tersebar di berbagai media, terkhusus pada ranah agama, dengan memperbanyak mengkaji ayat-ayat al-Qur’an, melatih diri dengan bersabar dan melakukan hal-hal yang positif dan yang paling utama adalah bagaimana dalam ramadhan ini kita kembali memupuk dan memperbaiki hubungan antara kita dengan Allah lewat ibadah pada malam atau siang hari yang sungguh besar manfaatnya bagi pribadi masing-masing, yang mana jika beberapa waktu kemarin kita terjebak pada media-media yang menjauhkan diri kita dengan sang pencipta yakni Allah SWT. Lewat momentum ramadhan inilah kita perbaiki kembali cara pandang terhadap kegunaan dan manfaat dari media untuk kehidupan masyarakat banyak dalam rangka menebarkan nilai-nilai kebenaran di bumi pertiwi Indonesia ini khususnya dan dunia pada umumnya. Wallahu A’lam Bissawab.

Selamat menjalankan ibadah puasa pada bulan ramadhan 1440 H/2019 M
Wassalam

Komentar