oleh

Upah Belum Dibayar PT. Inasko Cipta Bersama, 45 Orang Pekerja Terlantar

Para Pekerja Proyek Pasar Makdahi Yang Masi Menunggu Upahnya (Foto : Istimewa/Lintasmalut.net)

SULA – Puluhan pekerja Proyek Pembangunan Pasar Makdahi Desa Fogi Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) Provinsi Maluku Utara (Malut) terkatung – katung karena upahnya selama dua minggu belum dibayar Pihak Rekanan (Kontraktor).

Proyek tersebut di kerjakan dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2018 dengan nilai sebesar Rp 5,6 Miliar kemudian sudah mencapai 99 persen telah rampung dikerjakan, hanya sedikit bagian di lantai yang menunggu tahap finishing.

Naruto (34), seorang mandor yang membawahi 45 orang para pekerja proyek itu mengatakan, Kontraktor dari PT. Inasko Cipta Bersama, belum memberikan kepastian terkait upah yang harusnya dibayarkan. Padahal, para buruh bangunan hanya mengandalkan dari pendapatan tersebut untuk biaya hidup sehari – hari.

“Dalam perjanjiannya upah dibayarkan pekerjaan, tapi sampai sekarang nggak ada kejelasan, padahal kita biaya hidup sehari-hari ya ngandelin uang itu, anak-anak buah saya kan orang dari kampung semua, kasihan sama mereka,” Katanya saat di temui beberapa waktu lalu Rabu (27/3/2019).

Hingga kini lanjut dia, sebagain pekerja masih bertahan tinggal sementara di sisi Gedung baru yang belum diresmikan tersebut. Sebagian lagi memilih untuk pulang lebih dulu ke kampung halamannya masing – masing sampai ada titik terang soal upah itu.

“Udah berapa kali kita tanyakan, mereka (kontraktor) hanya jawab nanti secepatnya akan dibayar,” Keluhnya.

Seorang pekerja proyek, Arlan (27) menuturkan, jika akhir – akhir ini dia dan beberapa temannya harus rela hanya makan singkong dan ubi rebus tiap hari untuk menghemat, isi kantongnya kian menipis karena upah belum dibayar.

“Waktu awal selesai proyek, kita masih bisa ngutang di warteg, tapi lama-kelamaan akhirnya udah enggak bisa lagi, karena udah kebanyakan. Ya sekarang biar hemat kita paksain makan ini saja,”Ujar pria itu.

Sementara kontraktor dari PT. Inasko Cipta Bersama Herman Thes mengatakan, pencairan yang sudah dibayar dari Disperindagkop Kepulauan Sula ke kontraktor 85 persen, sedangkan pekerjaan di lapangan sudah mencapai 98 persen.

Disi lain, Disperindagkop dan UKM Kepsul Sofiyah mengatakan, Dinas belum bisa bayar karena mantan Kepala Dinas Bakir Upara, tidak mau menandatangani surat rekomendasi pencairan karena belum 100 persen pembangunan tersebut.

Sementara dalam surat kesepakatan pencairan dilakukan berdasarkan progres di lapangan, karena tidak ada pembayaran dari Dinas ke Kontraktor menyebabkan para pekerja berhenti untuk menyelesaikan pekerjaan Pasar Makdahi tersebut. “Apabila dari pihak Dinas suda bayar baru saya berikan upah buru, namun pihak Dinas juga tidak mau mencairkan uang, saya mau bayar dengan apa,” Ucap Herman.

“Pihak Disperindagkop dan UKM Kepsul sudah melangar perjanjian kontrak kerja,” Ucapnya lagi.

Plt Disperindagkop dan UKM Sofiyah ketika dikonfirmasi melalui via telepon seluler dengan nomor +62 822-9xxx-xxxx aktif namun tidak diangkat hingga berita ini ditayangkan. (Tim)

Komentar